Pernah bayangin nggak, ada hewan laut besar dengan berat bisa sampai 400 kilogram yang hobinya malah berkebun?
Di balik mitos kuno yang menyebut mereka sebagai putri duyung, Dugong (Dugon dugon) karena banyak cerita yang menyebutkan bahwa dugong saat berenang sekilas terlihat seperti manusia. Bahkan pada malam hari, gerakannya yang naik turun sering dianggap menyerupai sosok perempuan yang sedang berenang. (LPSPL Serang)
sebenarnya adalah mamalia laut herbivora atau hanya makan tumbuhan seperti lamun. Menariknya, mereka punya peran penting banget sebagai petani laut di daerah pesisir. Yuk kita cek faktanya!
Bukan Sekadar Mitos, Tapi Arsitek Ekosistem
Dugong adalah satu-satunya mamalia laut yang makan tumbuhan sepenuhnya. Makanan favoritnya adalah lamun, yaitu hamparan tumbuhan berbunga yang hidup di bawah permukaan laut dangkal. Tapi cara makan dugong ini unik banget. Dia nggak cuma makan daunnya, tapi juga mencabut sampai ke akar-akarnya, seperti orang lagi membajak sawah. Kelihatannya merusak ya? Eits, justru sebaliknya karena menciptakan jalur-jalur pemanenan yang khas di dasar laut.

Rahasia si Petani Laut
Meski terlihat seperti merusak, cara makan dugong justru punya manfaat besar untuk kesehatan laut. Saat dugong mencabut lamun hingga ke akar, area tersebut akan tumbuh kembali dengan tanaman yang lebih segar, bergizi, dan cepat tumbuh. Ini membuat banyak hewan laut lain ikut mendapatkan makanan yang lebih baik. Selain itu, kotoran dugong juga berperan seperti pupuk alami yang menyuburkan dasar laut, sehingga padang lamun tetap rimbun. Aktivitasnya saat mencari makan juga membantu mengaduk tanah di dasar laut, sehingga oksigen bisa masuk dan menjaga akar tanaman tetap sehat. Jadi, tanpa disadari, dugong sebenarnya sedang merawat kebun bawah laut agar tetap hidup dan seimbang.
Diam diam jadi Penjaga Iklim
Peran dugong ternyata nggak cuma penting untuk laut, tapi juga untuk bumi secara keseluruhan. Padang lamun yang mereka rawat adalah salah satu penyerap karbon paling efektif di dunia, bahkan bisa menyimpan karbon lebih baik daripada hutan tropis. Kalau jumlah dugong berkurang, lamun bisa tumbuh tidak sehat terlalu tua, kurang produktif, dan lebih mudah rusak akibat perubahan suhu atau penyakit. Padahal, lamun yang sehat sangat penting untuk menyimpan karbon dalam jumlah besar. Dengan menjaga padang lamun tetap sehat, dugong secara tidak langsung membantu mengurangi dampak perubahan iklim dan menjaga keseimbangan lingkungan kita.

Mengapa Sang “Putri Duyung” Terancam?
Dugong saat ini berstatus rentan (vulnerable), dan ancaman utamanya datang dari aktivitas manusia. Padang lamun yang merupakan sumber makanan mereka banyak rusak akibat reklamasi pantai dan pencemaran. Dugong juga sering terjerat jaring nelayan atau tertabrak kapal karena pergerakannya lambat.
Padahal, lamun sangat penting. Di dunia ada sekitar 60 spesies lamun, dan Indonesia memiliki sekitar 15 spesies serta menyimpan 5–10% ekosistem lamun dunia. Di Indonesia, dugong sudah dilindungi berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990, tetapi populasinya masih terus menurun. Tanpa perlindungan yang lebih serius, dugong bisa semakin langka bahkan hilang dari perairan kita.
Harapan di Balik Konservasi
Menjaga dugong sebenarnya sama dengan menjaga laut kita. Kalau dugong terlindungi, padang lamun juga ikut sehat. Dampaknya besar pantai lebih aman dari abrasi dan ikan tetap tersedia untuk nelayan.Padang lamun yang sehat adalah rumah bagi banyak biota laut seperti ikan kecil, udang, dan kepiting yang penting untuk kehidupan dan ekonomi masyarakat.
Semua bisa dimulai dari kesadaran kita. Dengan menjaga laut, mendukung kawasan konservasi, dan menggunakan cara menangkap ikan yang lebih ramah lingkungan, kita bisa memastikan dugong tetap ada dan terus menjaga keseimbangan laut untuk masa depan.
Referensi :
- IUCN Red List. (2022). Dugon dugon: Status and Conservation.
- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Indonesia. (2020). Rencana Aksi Nasional (RAN) Konservasi Mamalia Laut.
- UNEP. (2020). The Importance of Seagrass to the Environment and People.

