Cuma 0,1% di Laut, Tapi Simpan Hingga 18% Karbon. Ini Fakta Mengejutkan tentang Lamun

Jika kamu membayangkan penyerap karbon terbesar di bumi, mungkin yang terlintas adalah hutan hujan tropis yang memiliki banyak pohon. Padahal, ada lho di bawah laut yang perannya tak kalah penting yaitu lamun atau seagrass. Meski sering dianggap sekadar rumput di lautan, lamun sebenarnya adalah tumbuhan berbunga yang hidup di perairan dangkal dan diam-diam menjadi salah satu penyerap karbon paling efektif di planet ini.

Yang mengejutkan lagi, padang lamun hanya menutupi kurang dari 1% dasar laut dunia. Bahkan, estimasi global menunjukkan luasnya hanya sekitar 0,1% dari permukaan dasar laut. Namun, dari area sekecil itu, lamun mampu menyimpan sekitar 10–18% total karbon yang terkubur di laut.

Kenapa lamun jago banget menyimpan karbon?

Lamun itu bagian dari tim penyelamat iklim di laut, yang sering disebut blue carbon seperti  mangrove dan rawa pesisir. Tapi yang bikin lamun istimewa, dia tidak hanya menyerap karbon, tapi juga bisa mengunci karbon itu lama banget.

Lamun menyerap karbon dioksida (CO₂) saat fotosintesis, sama seperti tumbuhan di darat. Karbon itu lalu disimpan di bagian tubuhnya dari daun, batang, sampai akar.

Nah, yang paling keren, sebagian besar karbon justru ditimbun di dasar laut, di dalam lumpur atau sedimen. Karena disana minim oksigen, karbon jadi susah terurai. Akibatnya, karbon bisa tersimpan selama ratusan bahkan ribuan tahun. Beda dengan hutan di darat yang bisa melepas karbon lagi saat terbakar atau ditebang, lamun cenderung lebih aman menyimpan karbon selama tidak dirusak.

Tidak hanya soal karbon

Lamun itu bukan cuma penting buat iklim, tapi juga untuk kehidupan laut (dan manusia). Padang lamun jadi rumah bagi banyak makhluk laut, mulai dari ikan kecil sampai penyu. Bahkan, sekitar 20% hasil perikanan dunia bergantung pada ekosistem ini. Selain itu, lamun juga punya banyak manfaat seperti membantu air laut tetap jernih, menahan lumpur supaya tidak mudah terbawa arus dan melindungi pantai dari abrasi atau erosi

Jadi, lamun itu ibarat fondasi ekosistem pesisir. Walaupun kecil dan sering tidak terlihat, perannya besar banget baik untuk laut, maupun untuk kehidupan kita sehari-hari.

Sayangnya, lamun makin menghilang

Walaupun perannya besar, kondisi lamun justru makin mengkhawatirkan. Banyak aktivitas manusia yang tanpa sadar merusaknya mulai dari reklamasi pantai, pencemaran laut, cara menangkap ikan yang merusak, sampai dampak perubahan iklim.

Akibatnya, padang lamun terus berkurang dari tahun ke tahun. Masalahnya bukan cuma kehilangan tanaman laut biasa. Saat lamun rusak, karbon yang selama ini terkunci di dasar laut bisa ikut lepas kembali ke udara sebagai gas rumah kaca. Artinya, kita bukan hanya kehilangan penyerap karbon, tapi juga berisiko menambah emisi baru. Ibaratnya, kita kehilangan penyimpan sekaligus membuka tabungan karbon yang sudah lama tersimpan.

Solusi sederhana, dampaknya besar

Kabar baiknya, menjaga lamun sebenarnya tidak harus rumit atau mahal.  Dibandingkan teknologi canggih penangkap karbon yang biayanya tinggi, melindungi lamun adalah solusi alami yang jauh lebih sederhana tapi efektif. Kita bisa sekaligus mengurangi karbon di lingkungan, menjaga ekosistem laut tetap sehat dan melindungi sumber penghidupan masyarakat pesisir

Langkahnya pun bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mengurangi pencemaran laut, menjaga kualitas air, dan mendukung upaya konservasi pesisir. Di beberapa daerah, bahkan sudah ada upaya menanam kembali lamun yang rusak. Ini jadi bukti kalau ekosistem ini masih bisa dipulihkan kalau kita mau menjaga.

Saatnya lebih peduli pada laut

Selama ini, pembicaraan soal perubahan iklim sering fokus ke daratan seperti hutan dan polusi udara. Padahal, laut juga punya peran besar, termasuk dari ekosistem kecil seperti lamun. Lamun memang tidak setenar hutan hujan, tidak terlihat mencolok, dan sering luput dari perhatian. Tapi di balik itu, perannya sangat besar untuk menjaga keseimbangan bumi.Kadang, solusi terbesar justru datang dari hal-hal kecil yang jarang kita sadar seperti tanaman sederhana yang tumbuh diam-diam di bawah laut.

 

Referensi:

  • UNEP (United Nations Environment Programme). (2020). Out of the Blue: The Value of Seagrasses to the Environment and to People.
  • Fourqurean, J. W., et al. (2012). Seagrass ecosystems as a globally significant carbon stock. Nature Geoscience, 5(7), 505-509.
  • Duarte, C. M., et al. (2013). The Role of Coastal Plant Communities for Climate Change Mitigation and Adaptation. Nature Climate Change.
  • Pusat Riset Oseanografi – BRIN. (2022). Status Padang Lamun di Indonesia.
  • World Wildlife Fund (WWF). (2021). Seagrass: The Forgotten Ecosystem.
Scroll to Top