Kalau kita berbicara soal jaga lingkungan, yang sering muncul biasanya teknologi canggih atau aksi besar. Padahal, ada satu ilmu yang sudah lama ada dan terbukti ampuh yaitu pengetahuan lokal. Menariknya, di banyak daerah, justru perempuan yang jadi penjaga utama pengetahuan ini.
Tapi sayangnya, peran mereka sering luput dari perhatian.
Ilmu yang Diturunkan Lewat Cerita & Kebiasaan
Di banyak keluarga, perempuan seperti ibu, nenek, atau tante punya pengetahuan yang nggak selalu kita sadari penting. Misalnya, tahu tanaman apa yang bisa jadi obat, kapan waktu terbaik untuk menanam, atau di mana sumber air yang masih bersih.
Pengetahuan ini biasanya nggak diajarkan lewat buku, tapi lewat kebiasaan sehari-hari. Dari bantu masak, ikut ke kebun, sampai sekadar ngobrol santai. Tanpa sadar, itu semua adalah proses belajar.
Penelitian Setyani (2019) yang berjudul Eksplorasi Peran Perempuan Samin dalam Melestarikan Lingkungan Alam. menunjukkan kalau perempuan memang punya peran besar dalam mengajarkan kebiasaan ramah lingkungan di keluarga. Mulai dari cara pakai air, mengelola makanan, sampai menjaga kebersihan lingkungan.
Lebih dari Sekadar “Tradisi”

Banyak orang menganggap pengetahuan lokal itu kuno. Padahal, justru sebaliknya ini adalah hasil pengalaman panjang yang sudah teruji. Contohnya, perempuan di desa sering tahu tanda-tanda musim dari alam seperti perubahan angin, suara hewan, atau kondisi tanah. Dari situ, mereka bisa menentukan kapan waktu tanam yang tepat tanpa harus lihat aplikasi cuaca.
Di komunitas Samin di Blora, perempuan menentukan waktu tanam dari tanda-tanda alam tanpa bergantung pada teknologi. Sementara itu, perempuan Dayak di Kalimantan menggunakan sistem ladang berpindah dengan memperhatikan kesuburan tanah agar tetap terjaga.
Di Bali, perempuan juga terlibat dalam sistem Subak yang mengatur air dan pola tanam secara seimbang. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal bukan sesuatu yang ketinggalan zaman, tapi justru cara bertani yang terbukti lebih selaras dengan alam dan berkelanjutan.
Kenapa Perempuan?
Karena mereka paling dekat dengan aktivitas sehari-hari yang berhubungan langsung dengan alam. Mulai dari masak, ambil air, sampai mengurus tanaman.Makanya, perempuan sering jadi yang paling cepat sadar kalau ada perubahan lingkungan. Misalnya, air mulai keruh, tanah nggak subur, atau tanaman susah tumbuh.
Dari situ, mereka juga yang sering jadi “alarm” pertama kalau ada masalah lingkungan.
Tapi, Kok Jarang Diakui?
Ini yang jadi masalah. Walaupun perannya besar, pengetahuan perempuan sering dianggap biasa aja atau kurang penting. Banyak kebijakan atau program lingkungan yang lebih fokus ke pendekatan modern, tapi lupa melibatkan pengalaman lokal.
Padahal, kalau digabung, keduanya bisa jadi solusi yang lebih kuat. Selain itu, perempuan juga masih punya keterbatasan akses baik dalam pendidikan, teknologi, maupun kesempatan untuk ikut ambil keputusan.

Kenapa Ini Penting Buat Kita?
Sebagai anak muda, kita sering cari solusi yang baru dan canggih. Tapi kadang, kita lupa kalau solusi itu sebenarnya sudah ada dari dulu. Pengetahuan lokal bisa jadi jawaban untuk banyak masalah lingkungan hari ini. Lebih sederhana, lebih murah, dan biasanya lebih ramah alam.
Jadi, Kita Bisa Mulai dari Mana?
Mulai dari hal kecil seperti dengerin cerita orang tua atau nenek kita, belajar soal tanaman atau bahan alami di sekitar dan lebih peduli sama kebiasaan sehari-hari di rumah, karena menjaga bumi nggak selalu harus besar. Kadang, cukup dengan mengingat dan melanjutkan apa yang sudah diajarkan. Di balik semua itu, ada peran perempuan yang selama ini jadi penjaga ilmu diam-diam” untuk bumi kita.
Referensi
- Setyani, I., dkk. (2019). Eksplorasi Peran Perempuan dalam Melestarikan Lingkungan Alam.
- Lanta, J., dkk. (2019). Peran Perempuan dalam Pengelolaan Sumberdaya Hutan.
- Pudji Astuti, T. M. (2012). Ekofeminisme dan Peran Perempuan dalam Lingkungan.
- Rahmatia, A. (2024). Perempuan sebagai Penjaga Hutan Adat.
- Milafebina, R., dkk. (2023). Peran Budaya Perempuan Berbasis Kearifan Lokal di Era Digital.

