Mitos Nyi Roro Kidul dan Cara Leluhur Mengajarkan Kita Menghormati Laut

Kalau kamu pernah berkunjung ke pantai selatan Jawa, pasti familiar dengan cerita tentang Nyi Roro Kidul. Sosok yang dikenal sebagai penguasa Laut Selatan ini sudah lama hidup dalam ingatan kolektif masyarakat pesisir.

Bagi sebagian orang, kisah ini mungkin terdengar seperti legenda mistis. Tapi bagi masyarakat pesisir selatan Jawa, cerita tentang Nyi Roro Kidul bukan sekadar cerita. Ia adalah cara memahami laut—sekaligus cara bersikap terhadapnya.

Di balik kisahnya, ada pesan sederhana yang masih relevan sampai hari ini:

laut harus dihormati.

Bukan Sekadar Cerita, Tapi Etika Tak Tertulis

Dalam kajian antropologi, mitos bukan hanya cerita hiburan. Ia sering berfungsi sebagai cara masyarakat menjelaskan lingkungan di sekitarnya—terutama lingkungan yang berbahaya dan sulit diprediksi seperti laut selatan.

Penelitian Robert Wessing (1997) menunjukkan bahwa figur Nyi Roro Kidul membantu masyarakat pesisir memahami risiko laut sekaligus membentuk etika perilaku terhadapnya. Laut dipandang bukan sekadar ruang ekonomi, tetapi wilayah yang harus diperlakukan dengan hati-hati.

Di beberapa wilayah pesisir selatan Jawa, berkembang berbagai pantangan dan praktik budaya seperti:

  • Tidak berkata sembarangan di laut
  • Tidak bersikap berlebihan saat melaut
  • Melakukan ritual sedekah laut
  • Menghormati lokasi tertentu yang dianggap sakral

Penelitian di Cianjur Selatan bahkan menunjukkan bahwa mitos Nyi Roro Kidul mengandung nilai pelestarian lingkungan dan membentuk sikap kehati-hatian masyarakat terhadap wilayah pesisir (Setiawan, 2009).

Dengan kata lain, sebelum ada aturan lingkungan modern, masyarakat sudah punya etika ekologis berbasis budaya.

Laut sebagai Ruang Relasi Spiritual

Dalam kajian terbaru tentang marine eco-pneumatology, laut dipahami bukan hanya sebagai ruang ekonomi, tetapi juga ruang relasi spiritual antara manusia, alam, dan Yang Ilahi.

Penelitian Singgih, Haryono, dan Kristianto (2024) menjelaskan bahwa legenda seperti Nyi Roro Kidul merupakan bagian dari kosmologi maritim masyarakat Jawa. Mitos ini membantu membentuk cara masyarakat memahami laut sebagai ruang kehidupan yang harus dijaga keseimbangannya.

Tradisi seperti sedekah laut atau labuhan bukan sekadar ritual simbolik. Ia adalah bentuk pengakuan bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam, bukan menguasainya.

Cerita “Kemarahan Laut” dan Pesan Keselamatan

Sebagian masyarakat juga mengenal kisah tentang orang hilang yang dikaitkan dengan “jemputan” Nyi Roro Kidul. Dalam perspektif ilmu kelautan, banyak kejadian seperti ini berkaitan dengan fenomena rip current, yaitu arus balik kuat yang dapat menyeret perenang ke laut dalam dalam waktu singkat.

Narasi mistis seperti ini sering berfungsi sebagai cara tradisional untuk menyampaikan pesan keselamatan agar lebih mudah dipahami dan dipatuhi oleh masyarakat.

Dengan kata lain, cerita menjadi bahasa yang efektif untuk menjelaskan risiko laut jauh sebelum ada papan peringatan keselamatan seperti sekarang.

Menghormati Laut di Masa Lalu dan Hari Ini

Dulu, rasa hormat terhadap laut tumbuh dari cerita, tradisi, dan kepercayaan.

Hari ini, tantangannya berbeda.

Tekanan terhadap laut datang dari:

  • Sampah plastik
  • Limbah tekstil
  • Aktivitas industri pesisir
  • Perubahan gaya hidup modern

Karena itu, menjaga laut sekarang bukan hanya soal kepercayaan, tetapi juga soal tanggung jawab bersama.

Menghormati laut hari ini berarti tidak membiarkan sampah kita berakhir di pesisir. Tidak membebani ekosistem laut dengan limbah. Dan tidak menganggap laut sebagai tempat pembuangan tanpa batas.

Cerita tentang Nyi Roro Kidul mengingatkan kita bahwa sejak dulu, manusia sudah diajarkan satu hal penting:

laut bukan sekadar pemandangan. Laut adalah ruang kehidupan yang harus dijaga.

Referensi:

Singgih, E. G., Haryono, S. C., & Kristianto, A. (2024). Nyi Roro Kidul and Marine Eco-Pneumatology: Javanese Contextual Theological Studies in Maritime Society, Yogyakarta, Indonesia. International Journal of Asian Christianity.

Wessing, R. (1997). Nyai Roro Kidul in Puger: Local Applications of a Myth. Archipel.

Setiawan, I. (2009). Mitos Nyi Roro Kidul dalam Kehidupan Masyarakat Cianjur Selatan.

BMKG. Informasi keselamatan laut dan fenomena rip current di pesisir selatan Indonesia.

Scroll to Top