Jika pernah menyusuri hutan pinus di dataran tinggi, mata kita mungkin hanya terpesona oleh hamparan hijau yang menenangkan. Namun, di balik kokohnya batang yang menancap dalam tanah dan gemuruh angin yang menari di pucuknya, tersimpan harta alam yang sering terlewatkan: getah pinus. Cairan lengket yang menetes perlahan itu dijuluki “air mata emas”, bukan tanpa alasan—karena nilainya yang luar biasa, bagi manusia maupun bagi bumi. Mari kita telusuri jejaknya, dari hutan yang sunyi hingga tangan-tangan yang memanennya.
Pinus Sumatra: Pahlawan Ekologi dan Ekonomi

Di Hutan Nagari Padang Tarok di Kecamatan Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, menyimpan harta alam yang tersembunyi: “Air Mata Emas” Pinus. Kawasan seluas 359,88 hektare ini, yang dikelola sebagai hutan produksi, menjadi basis pengembangan usaha berbasis hasil hutan bukan kayu, terutama getah pinus yang bernilai tinggi.
Pinus (Pinus merkusii) adalah pohon yang kuat, tahan banting, dan mudah tumbuh di dataran tinggi dingin dan sejuk. Sebagai pahlawan ekologi hutan pinus punya peran besar untuk alam seperti:
- Menjaga tanah biar nggak mudah longsor
- Menyimpan air untuk daerah sekitar
- Bikin udara lebih segar
Selain ramah lingkungan, pinus juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi melalui getahnya. Dari cairan lengket ini dihasilkan:
- Gondorukem (Rosin): bahan kertas, sabun, cat, tinta, lem, hingga campuran batik.
- Minyak Terpentin: untuk parfum, kosmetik, obat antiseptik, pelumas, dan thinner.
Dengan perpaduan fungsi ekologis dan ekonomi, Hutan Pinus di Nagari Padang Tarok bukan hanya paru-paru alam, tetapi juga gudang harta tersembunyi yang akan kita telusuri lebih jauh melalui pemanfaatan getah pinus.
Inisiatif Lestari TLGF: Dari Hulu ke Hilir

Di sinilah Program TLGF (Tropical Landscape Grant Fund) berperan.. Program ini berfokus pada perbaikan tata kelola rantai pasok getah pinus agar lebih berkelanjutan di kawasan Perhutanan Sosial. Melalui kolaborasi antara Yayasan PILI, CV MB Jaya Mandiri, dan dukungan TLGF–UNEP, inisiatif ini bertujuan memperkuat tata Kelola supply chain hasil hutan bukan kayu (HHBK), khususnya getah pinus sebagai bahan baku industri gum rosin dan turpentine, sehingga proses produksi menjadi semakin efisien, transparan, dan ramah lingkungan. Harapannya, masyarakat menjadi lebih mandiri dan alur kerja dari hutan hingga pabrik berjalan lebih cepat, rapi, dan terlacak.
Program dimulai dengan Studi Awal untuk memahami alur kerja getah pinus—mulai dari rantai pasok, proses bisnis, aktor kunci, hingga analisis GEDSI dan SLF. Temuan ini kemudian menjadi dasar implementasi kegiatan diantaranya adalah pengembangan aplikasi Pine Oleo Sustainable Management System (POS MS), yang mengintegrasikan penilaian risiko dan sistem traceability dari hulu di Perhutanan Sosial Agam hingga hilir di pabrik pengolahan di Pekalongan.
Agar aplikasi ini dapat diterapkan dengan efektif, PILI menyelenggarakan ToT, sosialisasi penerapan SOP, serta FGD bersama para pemangku kepentingan untuk membahas progres pemetaan, tantangan, dan peluang penguatan rantai pasok. Melalui panduan dan pelatihan ini, praktik penyadapan maupun pengolahan di pabrik dapat berlangsung lebih aman, dan bertanggung jawab—memastikan hutan pinus tetap lestari sambil terus menghasilkan “air mata emas.”

Seperti perjalanan “air mata emas” yang menetes dari hutan sunyi hingga ke tangan yang memanennya, upaya memperbaiki rantai pasok getah pinus juga lahir dari kolaborasi yang solid. PILI berkomitmen untuk terus berinovasi dan beradaptasi dalam mendukung pengelolaan hutan lestari serta pemberdayaan masyarakat melalui kemitraan strategis, sehingga nilai besar yang tersimpan di balik hamparan hutan pinus tidak hanya memikat mata, tetapi benar-benar memberi manfaat yang transparan, adil, dan berkelanjutan bagi semua pihak.
