Ini Bukan Cuma Soal Banyaknya, Tapi Juga Dampak yang Mengiringinya
Plastik tercipta untuk mempermudah hidup manusia. Tapi kini, plastik justru mengantarkan kita pada krisis lingkungan yang mendesak. Laut, yang menutupi dua pertiga bumi kita, tidak luput dari bayang-bayang masalah yang ditimbulkan sampah plastik.
Semakin banyak penelitian yang dilakukan untuk mengetahui lebih banyak terkait isu ini. Dan angka-angka yang didapatkan begitu mengkhawatirkan.
Berapa Banyak Plastik yang Kita Buat

Manusia menghasilkan lebih dari 400 juta ton plastik dalam setahun, setara dengan berat semua manusia di planet ini.
Dari semua limbah plastik yang kita buang, hanya 9% yang benar-benar didaur ulang. Sisanya, sekitar 22% limbah plastik bocor ke lingkungan, termasuk ke sungai dan laut. Banyak dari sampah plastik masuk ke laut melalui aliran sungai.
Dari angka sebesar itu, hanya kurang dari 0,5% sampah plastik yang benar-benar berakhir di laut setiap tahunnya. Tidak begitu banyak, bukan?
Bukan. Nyatanya, lebih dari satu juta ton sampah plastik berakhir di lautan setiap tahun. Itu setara dengan satu truk sampah plastik setiap menit.
Laut: Tempat Pembuangan Akhir?
Setidaknya, ada 30 juta ton sampah plastik yang menumpuk di lautan hari ini, dengan 109 juta ton lainnya yang masih tertahan di sungai. Semua sampah itu tetap akan terus mengalir ke laut hingga berpuluh tahun lamanya, bahkan jika kita berhenti memproduksi plastik hari ini.
Tumpukan plastik di laut jelas bukan tanpa dampak buruk. Studi oleh Kühn & van Franeker (2020) mencatat lebih dari 900 spesies laut yang terdampak sampah plastik. Sebanyak 701 spesies satwa menelan plastik tanpa sengaja maupun karena salah mengira plastik sebagai makanan alaminya. Sementara itu, 354 spesies lainnya tercatat mati akibat terjerat sampah plastik.
Studi yang sama menemukan bahwa hampir 41% individu burung laut terkontaminasi plastik, dengan rata-rata 9,9 partikel plastik di dalam tubuh setiap burung.
Dari Laut ke Dalam Perut

Plastik mencemari banyak hewan laut dalam bentuk partikel kecil yang disebut mikro dan nano plastik. Partikel kecil ini dapat dengan mudah termakan oleh plankton, lalu berpindah ke ikan kecil, dan terus terbawa rantai makanan hingga sampai ke meja makan kita.
Melalui konsumsi ikan, kerang, dan makanan laut lainnya, mikro dan nano plastik dapat ikut masuk ke dalam tubuh manusia. Dan karena ukurannya yang begitu kecil, hampir pasti kita tidak menyadarinya.
Penelitian terbaru menunjukkan nano plastik dapat menembus blood–brain barrier (sawar otak) dalam waktu dua jam setelah tertelan dalam uji coba pada tikus (Kopatz et al., 2023). Selain itu, partikel plastik dengan ukuran kurang dari 150 mikron juga ditemukan bisa menembus dinding usus dan menyebar ke organ tubuh, termasuk hati dan otak (Yuan et al., 2022).
Hal ini tentu akan menimbulkan berbagai risiko kesehatan seperti gangguan hormon, kerusakan hati dan sel saraf, hingga potensi kanker dan toksisitas kronis.
Menyikapi Angka yang Ada
Seberapa banyak sampah di lautan bukan cuma masalah jumlah. Sejumlah penelitian yang sudah dilakukan akan sia-sia belaka bila kita menyikapinya hanya sebagai tambahan pengetahuan. Kita harus mulai ambil tindakan.
Saatnya kita renungkan kembali, apa yang akan kita wariskan pada laut esok hari.
Sumber:
OECD (2022), Global Plastics Outlook: Economic Drivers, Environmental Impacts and Policy Options, OECD Publishing, Paris, https://doi.org/10.1787/de747aef-en.
Kühn, S., & van Franeker, J. A. (2020). Quantitative overview of marine debris ingested by marine megafauna. Marine Pollution Bulletin, 151, 110858. https://doi.org/10.1016/j.marpolbul.2019.110858
Kopatz, V., Wen, K., Kovács, T., Keimowitz, A. S., Pichler, V., Widder, J., Vethaak, A. D., Hollóczki, O., & Kenner, L. (2023). Micro- and Nanoplastics Breach the Blood–Brain Barrier (BBB): Biomolecular Corona’s Role Revealed. Nanomaterials, 13(8), 1404. https://doi.org/10.3390/nano13081404
Yuan, Z., Nag, R., & Cummins, E. (2022). Human health concerns regarding microplastics in the aquatic environment – from Marine to Food Systems. Science of The Total Environment, 823, 153730. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2022.153730
