Konflik Iran–Israel & Ancaman Perang Dunia. Kenapa Ini Berita Buruk Bagi Iklim?

Berita tentang ketegangan antara Iran dan Israel biasanya penuh dengan istilah berat seperti rudal balistik, strategi militer, dan manuver geopolitik. Kita disuguhi peta konflik dan analisis politik yang rumit. Tapi di balik semua itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian yaitu dampaknya terhadap lingkungan hidup. Jika konflik ini makin meluas dan menyeret lebih banyak negara, yang terancam bukan cuma stabilitas kawasan. Iklim bumi rumah kita bersama ini juga bisa ikut terdampak lho!

Jejak Karbon Militer

*source: Parkinson, S. (2023). How Big Are Global Military Carbon Emissions? Responsible Science, No. 5.

Sektor militer global diperkirakan menyumbang sekitar 5,5% dari total emisi gas rumah kaca dunia. Berdasarkan laporan Estimating the Military’s Global Greenhouse Gas Emissions (2022/2023), emisi militer global bukan hanya dari jet tempur dan kapal perang, tetapi juga dari seluruh rantai produksi industri senjata. Mesin perang pada dasarnya adalah mesin pembakar bahan bakar fosil. Jika militer dunia dianggap sebagai satu negara, ia akan menjadi penghasil emisi gas rumah kaca  terbesar keempat di dunia, bahkan melampaui Rusia.

Nah ketegangan antara Iran dan Israel, setiap peluncuran jet dan rudal membakar bahan bakar fosil dalam jumlah besar. Bahkan dalam hitungan hari, aktivitas militer bisa melepas puluhan ribu ton CO₂ ke atmosfer.

Polusi Udara dan Kerusakan Ekosistem

Ledakan di fasilitas industri, kilang minyak, atau infrastruktur energi berisiko melepaskan partikulat halus (PM2.5), sulfur dioksida, dan berbagai zat beracun ke atmosfer. Asapnya bisa membawa partikel berbahaya dan racun ke udara, bahkan memicu hujan asam yang berdampak pada kesehatan dan lingkungan. Bahkan sisa amunisi yang tidak meledak juga bisa mencemari tanah dan air dengan logam berat. Akibatnya, suatu wilayah bisa menjadi zona mati yang butuh waktu sangat lama untuk pulih.

Mundurnya Target Net Zero

Saat konflik global memanas, banyak negara terpaksa mengubah prioritas anggarannya. Dana yang tadinya disiapkan untuk energi terbarukan dan transisi hijau bisa dialihkan ke belanja militer. Di sisi lain, gangguan pasokan energi membuat beberapa negara kembali memakai bahan bakar fosil demi keamanan jangka pendek. Akibatnya, target net zero emission yang sudah dirancang dengan susah payah bisa mundur. Padahal, dunia sedang berusaha keras menahan kenaikan suhu bumi agar tidak melewati batas yang berbahaya bagi kita semua.

Perang mungkin terjadi di satu wilayah, tapi dampaknya tidak pernah benar-benar berhenti di sana. Emisi karbon dan polusi udara tidak mengenal batas negara. Asap yang dilepaskan di satu kawasan tetap ikut memanaskan bumi yang sama dan dampaknya bisa kita rasakan juga di Indonesia.Karena itu, meredakan konflik bukan hanya soal menghentikan kekerasan dan menyelamatkan nyawa. Ini juga tentang memberi bumi kesempatan untuk untuk dan membuat dunia kembali fokus menghadapi krisis iklim yang semakin mendesak.

 

Referensi : 

  • CEOBS (Conflict and Environment Observatory) – Laporan: “Estimating the Military’s Global Greenhouse Gas Emissions” (2022).
  • Queen Mary University of London – Analisis: “Carbon Emissions from Conflict and Reconstruction” (2024).
  • Scientific American – Artikel: “The Carbon Footprint of War”.
  • The Guardian – Liputan: “Is the world’s military a bigger polluter than Russia?”.
Scroll to Top