Jaga Warisan Purba Nusantara: Pemerintah Luncurkan Strategi & Rencana Aksi Konservasi Komodo Satu Dekade ke Depan

Bogor, 26 Februari 2026 – Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Kehutanan, dengan dukungan proyek Investing in the Komodo Dragon and Other Globally Threatened Species in Flores (IN-FLORES) yang didanai Global Environment Facility (GEF) dan UNDP Indonesia, menyelenggarakan Sosialisasi dan Diseminasi Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Biawak Komodo Tahun 2025–2035. Kegiatan hybrid ini melibatkan pemangku kepentingan dari pemerintah pusat dan daerah, akademisi, lembaga riset, organisasi nonpemerintah, mitra pembangunan, mitra swasta, hingga media sebagai langkah strategis memperkuat komitmen nasional melindungi Biawak Komodo (Varanus komodoensis), satwa endemik yang menjadi simbol kebanggaan bangsa dan ikon keanekaragaman hayati dunia.

Komodo, reptil terbesar di dunia, hidup terutama di kawasan Taman Nasional Komodo serta sebagian wilayah Pulau Flores bagian barat dan utara, meliputi Cagar Alam Wae Wuul, Pulau Longos, Cagar Alam Riung, dan Taman Wisata Alam 17 Pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Total populasi Komodo saat ini diperkirakan kurang dari 4.000 ekor, populasi terbesarnya, yaitu sekitar 3.270 ekor berada di Taman Nasional Komodo, sedangkan sisanya sekitar 701 ekor berada di Pulau Flores dan sekitarnya. Di Taman Nasional Komodo, seluruh habitat tempat hidup populasi Komodo merupakan kawasan konservasi yang dilindungi namun di Pulau Flores, sebagian besar (>50%) habitat area sebarannya justru merupakan areal penggunaan lain termasuk lahan masyarakat yang tidak dilindungi. Secara global, Komodo berstatus Endangered (Terancam Punah) menurut Daftar Merah IUCN dan termasuk dalam Appendix I CITES yang melarang perdagangan internasional terhadap spesies ini.

Ancaman terhadap kelestariannya, khususnya di Pulau Flores,  meliputi perubahan iklim, penyusutan dan fragmentasi habitat, tekanan pembangunan, konflik manusia–Komodo, serta keberadaan spesies invasif. Data monitoring terbaru menunjukkan populasi di Taman Nasional Komodo relatif stabil dengan kecenderungan meningkat, namun populasi di luar kawasan konservasi masih menghadapi berbagai tantangan serius.

Merespons kondisi tersebut, SRAK Biawak Komodo Tahun 2025–2035 telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 622 Tahun 2025 tanggal 7 Oktober 2025. Dokumen ini berfungsi sebagai peta jalan konservasi nasional dan merupakan bagian dari implementasi Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045 serta mendukung komitmen Indonesia terhadap Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework. SRAK ini difokuskan pada empat pilar utama: perlindungan dan pengawetan spesies serta habitatnya; penelitian, pendidikan, dan penguatan kelembagaan; pengembangan ekonomi masyarakat dan pendanaan berkelanjutan; serta komunikasi, edukasi, dan peningkatan kesadaran publik.

Dalam sambutannya, Prof. Satyawan Pudyatmoko (Direktur Jenderal KSDAE) menyampaikan empat arahan strategis. “Saya mengarahkan seluruh pihak untuk fokus pada empat hal: pertama, memperkuat perlindungan populasi dan habitat Komodo sebagai prioritas nasional, termasuk perluasan kawasan konservasi dan penegakan hukum; kedua, mengintegrasikan konservasi Komodo ke dalam perencanaan pembangunan daerah, khususnya tata ruang dan pariwisata di wilayah sebaran Komodo; ketiga, memperkuat sinergi dan kolaborasi multipihak antara pemerintah, lembaga riset, organisasi konservasi, dunia usaha, dan masyarakat lokal; serta keempat, menguatkan basis ilmiah melalui sistem monitoring yang menyeluruh dan mengembangkan skema pendanaan berkelanjutan, termasuk kemitraan swasta dan optimalisasi ekowisata bertanggung jawab,” ujar Direktur Jenderal KSDAE.

Sosialisasi ini bertujuan memperkenalkan substansi dan arah kebijakan SRAK 2025–2035, mengidentifikasi peran masing-masing pihak, serta mendorong kolaborasi dalam pelaksanaan aksi konservasi. Kegiatan diselenggarakan oleh Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI Green Network) dan Komodo Survival Program (KSP) bersama Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, Kementerian Kehutanan, dengan dukungan Proyek IN-FLORES. Narasumber hadir dari Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, Balai Taman Nasional Komodo, Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Komodo Survival Program (KSP).

Melalui sosialisasi ini, diharapkan terbentuk peta peran yang jelas, rekomendasi bersama, serta jejaring kerja konservasi yang lebih solid. Konservasi Komodo bukan sekadar menyelamatkan satu spesies, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem, mendukung ekonomi berbasis ekowisata berkelanjutan, dan memastikan warisan alam Indonesia tetap lestari bagi generasi mendatang.

 

Narahubung Media:

  • Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik
    Direktorat Jenderal KSDAE – Kementerian Kehutanan
    Email: dit.ksg@kehutanan.go.id
    Instagram: @indonesiawildlife
  • Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI Green Network)
    Email: Piligreennetwork@gmail.com
    @piligreennetwork
  • In-flores Project
    @inflores.id
    help@inflores.id
Scroll to Top