Kota Bogor, Kamis 08/01/2026 – Hari kedua kegiatan Lokakarya Harmonisasi Rencana Kerja GREEN for Riau Initiative (G4RI) diawali penekanan pentingnya perlindungan sosial, keterlibatan pemangku kepentingan, serta penerapan prinsip keadilan dan inklusivitas dalam program lingkungan dan karbon.
Dibuka oleh fasilitator, Bapak Thomas Oni Veriasa, dengan game, dilanjutkan dengan pemaparan rencana kerja (workplan) oleh para konsultan teknis: Stakeholder Engagement and Community Development, Indigenous Peoples and Local Communities, Social Forestry, Budget Tagging dan F-GRM consultant.

Kegiatan ini diperkaya dengan pemaparan Efrain Muharrom, Safeguards Expert UN-REDD Programme, yang berbagi pengalaman mengenai implementasi REDD+ dan Safeguards di Kalimantan Timur dan Jambi, serta pengalaman global dalam penerapan Safeguards. Pemaparan tersebut mencakup berbagai aspek yang dikembangkan dalam Safeguards Guidance. Diskusi menegaskan bahwa keterlibatan pemangku kepentingan (stakeholder engagement) harus dilakukan secara inklusif dan partisipatif, khususnya dengan melibatkan masyarakat adat dan masyarakat lokal sebagai aktor kunci sejak tahap perencanaan.
Melalui paparan tersebut, ditegaskan bahwa keberhasilan program tidak cukup hanya melalui sosialisasi, melainkan bergantung pada penerapan FPIC (Free, Prior, and Informed Consent) yang benar. Proses ini mencakup pemetaan pemangku kepentingan secara menyeluruh, penguatan kapasitas masyarakat, mekanisme pembagian manfaat yang adil, serta pencegahan dan penyelesaian konflik. Diskusi juga menyoroti pentingnya membangun kepercayaan (trust), rasa memiliki (ownership), komunikasi yang mudah dipahami oleh masyarakat akar rumput, serta kemitraan jangka panjang antara pemerintah, masyarakat, sektor swasta, dan pihak terkait lainnya, di tengah keterbatasan waktu implementasi program.

Muhammad Syukur dari Yayasan Penabulu memaparkan peran Penabulu sebagai Lembaga Perantara dalam pelaksanaan Program RBP REDD+ GCF Output 2 di Provinsi Riau yang berfokus pada pengelolaan hutan lestari, rehabilitasi hutan dan lahan, serta pemberdayaan masyarakat. Ia juga menyampaikan bahwa pelaksanaan program tersebut akan diselaraskan (aligned) dengan kegiatan-kegiatan GREEN for Riau, mengingat terdapat sejumlah aktivitas yang memiliki tujuan dan output yang sama sehingga dapat saling memperkuat capaian program.
Memasuki sesi siang, kegiatan difokuskan pada pelatihan Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) atau dalam Bahasa Indonesia berarti Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial oleh Dzul Afifah Arifin, M.Sc yang juga merupakan konsultan teknis G4RI terkait GEDSI. Sesi diawali dengan pre-test dan diskusi interaktif untuk menyamakan pemahaman peserta. Narasumber menegaskan bahwa GEDSI bukan sekadar pemenuhan persyaratan donor, melainkan pendekatan pembangunan yang perlu diterapkan dalam praktik sehari-hari guna memastikan prinsip no one left behind.
Paparan data Provinsi Riau menunjukkan bahwa ketimpangan gender masih cukup tinggi, terutama dalam partisipasi kerja, keterwakilan politik perempuan, serta isu kesehatan reproduksi. Ketimpangan ini dipengaruhi oleh faktor struktural, sosial, budaya, dan agama. Pelatihan kemudian membedakan secara jelas antara jenis kelamin (biologis) dan gender (peran sosial), serta menjelaskan perbedaan equality, equity, dan social inclusion melalui contoh-contoh konkret.

Ditekankan bahwa pembagian sumber daya yang sama belum tentu adil. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan berbasis kebutuhan (equity) dan penghapusan hambatan struktural agar semua kelompok dapat berpartisipasi secara bermakna (social inclusion). Diskusi juga mengulas stereotip gender, marginalisasi, serta beban kerja yang tidak terlihat khususnya beban domestik perempuan yang sering tidak diakui secara ekonomi dan berdampak pada ketidakadilan.
Sesi GEDSI turut membahas pentingnya penerapan APKM (Akses, Partisipasi, Kontrol, dan Manfaat), penggunaan data terpilah (berdasarkan jenis kelamin, usia, dan disabilitas), serta pelaporan kualitatif yang menekankan kualitas partisipasi, bukan sekadar pemenuhan kuota. Peserta juga diperkenalkan pada strategi affirmative action untuk menutup kesenjangan kapasitas, hingga pendekatan transformatif melalui perubahan kebijakan dan kelembagaan. Sesi tanya jawab berlangsung dengan sangat baik dan interaktif, ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang muncul serta antusiasme tinggi dari para peserta.
Selanjutnya terdapat pembagian lokakarya ke dalam tiga working group cluster diharapkan dapat memperkuat sinkronisasi rencana kerja G4RI secara tematik, sekaligus memastikan setiap masukan teknis terintegrasi secara efektif dan inklusif. Melalui diskusi yang lebih terfokus, pendekatan kolaboratif antar konsultan dan pemangku kepentingan diharapkan mampu menghasilkan rencana kerja yang responsif terhadap prinsip GEDSI, perlindungan sosial, serta kebutuhan masyarakat di tingkat tapak, sebagai fondasi pelaksanaan program yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Tentang UN-REDD Programme:
Program UN-REDD adalah kolaborasi PBB (UNEP, FAO, UNDP) untuk membantu negara-negara berkembang dalam mengurangi emisi dari deforestasi dan degradasi hutan serta mengelola hutan secara berkelanjutan.
Tentang PILI Green Network:
PILI Green Network adalah organisasi nirlaba Indonesia yang berdedikasi untuk memperkuat konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan melalui pendekatan ilmiah dan kolaborasi multipihak.
Tentang PETAI
Yayasan PETAI (Pusat Edukasi dan Transformasi Alam Indonesia) adalah organisasi nirlaba yang memiliki peran krusial dalam konservasi dan pemberdayaan masyarakat, khususnya di wilayah Riau. Dalam konteks inisiatif GREEN for Riau (G4RI), Yayasan PETAI bertindak sebagai salah satu mitra pelaksana lokal yang menjembatani kebijakan teknis dengan aksi nyata di tingkat tapak.
Kontak Media:
1. Danang Kabul Sutresno, Seketariat GREEN for Riau Initiative
Email: danangks@gmail.com
+62 853-5571-5638
2. Erisha Nur Fatimah, Media Officer, PILI Green Network
Email: erishanurfa68@gmail.com
+62 896-2921-1539
3. Tsabitah Syafanaura Kurniawan
Email: tsabitah@petai.org
+62 815-3410-0366
