Banyak yang mengenal Jane Goodall atau Dian Fossey, tapi dunia konservasi tidak akan lengkap tanpa menyebut satu nama pejuang wanita di tanah air kita yakni Dr. Birutė Mary Galdikas. Beliau bukan sekadar peneliti beliau adalah simbol ketangguhan wanita yang mendedikasikan 55 tahun hidupnya di jantung Borneo.
Lebih dari Sekadar Peneliti

Kalau banyak ilmuwan datang ke hutan untuk riset lalu pulang, Birutė justru memilih tinggal. Sejak pertama kali datang ke Kalimantan tahun 1971, beliau benar-benar hidup di tengah hutan, berdampingan dengan alam dan orangutan.
Perjalanannya juga nggak mudah. Beliau harus menghadapi malaria, hidup tanpa listrik, dan melewati medan rawa yang bahkan nggak gampang dijangkau siapa pun. Tapi semua itu nggak menghentikan langkahnya.Kalau kamu pernah lihat foto perempuan berambut pirang yang lagi gendong bayi orangutan di tengah hutan, itu adalah beliau. Foto itu bukan sekadar momen lucu, tapi gambaran nyata kedekatannya dengan satwa yang ia lindungi.
Bagi Birutė, konservasi bukan cuma soal penelitian atau data. Ini soal rasa peduli, empati, dan merawat seperti seorang ibu menjaga anaknya. Beliau nggak cuma datang sebentar. Sampai sekarang, beliau sudah menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk menjaga hutan dan orangutan di Borneo
Era Leakey Angel

Dulu, ada tiga perempuan hebat yang dijuluki Leakey’s Angels. Mereka dikirim ke berbagai belahan dunia untuk belajar tentang kera besar supaya kita paham asal-usul manusia. Jane Goodall ke Afrika buat simpanse, Dian Fossey buat gorila, dan Birutė memilih Kalimantan buat orangutan. Sekarang, ketiganya sudah tiada. Birutė adalah yang terakhir yang bertahan sampai akhir hayatnya demi menjaga hutan Indonesia.
Kisah Birutė itu luar biasa banget. Bayangkan nekat masuk hutan pada tahun 1971, beliau sudah berani masuk ke pedalaman Kalimantan yang saat itu belum ada apa-apanya. Nyamuk, lintah, dan malaria jadi teman sehari-harinya.Beliau menyelamatkan ratusan bayi orangutan yang kehilangan induknya. Beliau rawat, kasih susu, bahkan tidur bareng mereka supaya mereka nggak merasa sendirian.
Warisannya buat Kita
Walaupun Ibu Birutė sudah tidak ada, tapi perjuangannya belum selesai. Saat ini orangutan kita masih dalam status Sangat Terancam Punah. Beliau pernah bilang kalau menyelamatkan orangutan itu sama saja dengan menyelamatkan manusia. Karena kalau orang utan punah, artinya hutan rusak. Kalau hutan rusak, kita semua bakal susah dapat udara bersih.
Referensi
- Pernyataan Resmi OFI: Honoring the Life and Legacy of Dr. Biruté Mary Galdikas (1946–2026).
- Betahita. (2026). “Birute Galdikas, Ibu Para Orangutan Telah Pulang”. Tersedia di:https://betahita.id/news/detail/11948/birute-galdikas-ibu-para-orangutan-telah-pulang.html (Diakses 7 April 2026).

