Pemprov Riau Dorong Sinkronisasi Data dan Kolaborasi Lintas Pihak dalam GREEN for Riau Initiative

Bogor, 09 Januari 2025 – Lokakarya Harmonisasi Rencana Kerja GREEN for Riau Initiative (G4RI) memasuki hari ketiga dengan agenda yang semakin terfokus pada penguatan tata kelola serta penyelarasan strategi implementasi bersama. Pada tahap ini, diskusi tidak lagi bersifat konseptual, melainkan mengerucut pada mekanisme kerja operasional, koordinasi lintas pihak, serta fondasi teknis yang akan menjadi dasar pelaksanaan program ke depan.

Agenda hari terakhir pada sesi pagi mencakup  penyelarasan rencana kerja lintas konsultan, penjelasan struktur tata kelola GREEN for Riau Initiative, sharing teknis awal terkait accounting area dan penghitungan emisi, serta arahan strategis dari Pemerintah Provinsi Riau.

Sebelum sesi diskusi dimulai, forum menekankan pentingnya penyatuan peran, target, dan mekanisme koordinasi lintas pemangku kepentingan. memasuki hari ketiga, lokakarya mencapai tahap yang lebih terfokus dalam menyelaraskan strategi implementasi terpadu yang inklusif dan berkelanjutan.

Paparan struktur tata kelola program disampaikan oleh Bambang Arifatmi, Country Coordinator UNEP UN-REDD Programme di Indonesia, yang menjelaskan pembagian working group cluster dalam GREEN for Riau Initiative, mulai dari Budget – Planning; Measurement, Reporting, and Verification (MRV); Governance/Stakeholder Engagement, Safeguard; dan Benefit Sharing Working Group Cluster. Struktur ini dirancang untuk memastikan kejelasan peran, mekanisme koordinasi yang efektif, serta keberlanjutan sumber daya manusia dan transfer pengetahuan agar program dapat berjalan secara mandiri ke depan.

Arahan utama dari Pemerintah Provinsi Riau disampaikan oleh M. Job Kurniawan, AP., M.Si., Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Riau, yang menegaskan komitmen kuat pemerintah daerah dalam mendukung GREEN for Riau Initiative. Dalam arahannya, ia menekankan pentingnya sinkronisasi data lintas pihak agar tidak membebani masyarakat, serta perlunya koordinasi intensif antara pemerintah, NGO, konsultan, dan mitra internasional. Pemerintah Provinsi Riau juga mendorong keterlibatan masyarakat adat dan lokal sejak tahap perencanaan, termasuk dalam skema Benefit Sharing Mechanism (BSM), serta menjaga keseimbangan antara fungsi ekologi dan manfaat ekonomi, sejalan dengan upaya pengakuan dan perlindungan hutan adat.

Sesi pagi juga diisi dengan sharing teknis awal terkait accounting area dan penghitungan emisi oleh FAO, yang memaparkan status penghitungan emisi di Provinsi Riau serta tantangan utama pada lahan gambut, khususnya gambut di luar kawasan hutan. Diskusi awal mengemuka terkait opsi-opsi penetapan accounting area. Seluruh opsi masih bersifat indikatif dan akan dikaji lebih lanjut melalui simulasi teknis yang mempertimbangkan metodologi, data, risiko, serta performa penurunan emisi.

Pada sesi siang, lokakarya berfokus pada presentasi hasil kerja kelompok dan identifikasi isu lintas sektor (cross-cutting). Diskusi menegaskan pentingnya sistem manajemen data terpusat dengan sekretariat sebagai one gate data, didukung oleh repository bersama, SOP berbagi data, standarisasi format, khususnya data spasial serta pengembangan Web GIS untuk mendukung verifikasi emisi dan kebutuhan MRV. Penyelarasan rencana kerja berbasis target audiens (provinsi, kabupaten/kota, dan nasional) juga disepakati untuk meningkatkan efisiensi dan kolaborasi lintas konsultan.

Pembahasan mekanisme koordinasi operasional dan penetapan rencana tindak lanjut. Disepakati alur pelaksanaan kegiatan yang dimulai dari penyusunan TOR oleh konsultan, koordinasi dengan implementing partner, hingga proses perizinan dan undangan resmi melalui pemerintah daerah. Seluruh kegiatan wajib disertai pelaporan dan unggahan dokumen ke repository data terpusat sebagai tulang punggung pengelolaan informasi GREEN for Riau Initiative.

Sebagai penutup, forum menyepakati bahwa hasil lokakarya tiga hari akan dikompilasi oleh sekretariat dan dikembalikan kepada seluruh konsultan sebagai versi awal rencana kerja terintegrasi. Fokus tindak lanjut terdekat mencakup penyelesaian daftar kebutuhan data, penguatan koordinasi awal, serta persiapan kegiatan implementasi pada bulan berjalan.

“GREEN for Riau Initiative bergerak layaknya sebuah orkestra kolaborasi, di mana setiap peran berpadu dalam satu harmoni. Ketika Pentahelix bersatu, GREEN for Riau Initiative menjelma menjadi simfoni hijau yang mengalun menuju hutan lestari, iklim yang pulih, dan masa depan berkelanjutan bagi Riau dan dunia.”

Scroll to Top