Spesies Katak Baru Endemik Sumatera

KOMPAS.com- Di tengah kekhawatiran masyarakat dunia akan pandemi Covid-19 yang belum juga berakhir. Ada hal lain yang menjadi kekhawatiran ahli, yakni kerusakan ekosistem yang memengaruhi kehidupan mahluk di Bumi, termasuk spesies amfibi, katak. Hal ini diungkapkan oleh Peneliti Bidang Herpetologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy saat menjelaskan tentang penemuan spesies katak mini baru, yang diberi nama Micryletta sumatrana sp.nov. Untuk diketahui, penamaan spesies baru katak mini ini, karena memang endemik dari wilayah Sumatera bagian selatan, terutama daerah Palembang dan sekitarnya. Katak mini Micryletta sumatrana ini pertama kali ditemukan oleh Alhadi di Hutan Harapan perbatasan antara Provinsi Jambi dan Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2019.
Black Soldier Fly (BSF) & Maggot BSF

Black Soldier Fly dengan nama latin hermetia illucens atau Lalat Tentara Hitam dalam bahasa Indonesia merupakan jenis lalat dari sekian banyak jenis lalat yang ternyata memberikan banyak sekali manfaat bagi manusia.

Fase hidup nya terbilang singkat hanaya rata-rata 7 hari, BSF adalah jenis lalat yang bersih tidak makan dari kotoran sampah dan membawa penyakit bagi manusia. BFS betina dapat menghasilkan telur berjumlah 500-900 buah yang akhirnya akan menetas dan menjadi larva.

Gajah dan Badak Terancam Punah, Inilah Peran Mereka bagi Bumi

KOMPAS.com - Populasi gajah dan badak sebagai hewan besar di planet ini kian berkurang akibat perburuan liar dan perubahan iklim. Padahal, keberadaan mereka juga satwa lain memiliki peran penting bagi kehidupan di Bumi. Studi baru yang dilakukan oleh gabungan para peneliti di University of Arizona, Santa Fe Institute, Northern Arizona University, UN Environment Programme World Conservation Monitoring Centre, dan University of Oxford menemukan bukti hilangnya hewan besar.
Rangkaian Kunjungan Dirjen KSDAE ke TNGGP

Cibodas, 7 Juni 2020 - Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Wiratno berkunjung ke Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) pada Sabtu (06/06/2020), dalam rangka pemantauan persiapan kondisi tapak untuk menyongsong Tatanan Normal Baru atau sering disebut “New Normal” serta inovasi dalam pengelolaan kawasan. Dirjen KSDAE yang didampingi Tandya Tjahjana, selaku Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, beserta jajarannya, disambut Kepala Balai Besar TNGGP Wahju Rudianto dan jajarannya.

Terbangkan Garuda di Habitatnya, Jokowi Ajak Warga Lestarikan Lingkungan

Dalam kunjungannya di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) Jokowi melakukan dua agenda, yaitu melepas dua ekor elang dan menanam pohon pulai (14/02/2020). Elang endemik lereng merapi yang dilepas itu merupakan sepasang elang jawa spesies Nisaetus Bartelsi bernama Abu (Jantan) dan Rossy (Betina). Keduanya dilepasliarkan setelah 3 tahun dirawat di penangkaran, dan dirasa sudah mampu hidup kembali di habitatnya. Adapun pohon Pulai (Alstonia scholaris) atau biasa disebut Pule merupakan tanaman kayu endemik kawasan tropis Asia yang tumbuh alami di lereng Merapi. Ada beberapa hal yang menarik dicatat terkait agenda di TNGM ini.

TN BBS Laksanakan Pelatihan Restorasi Berbasis Masyarakat

Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan menyelenggarakan pelatihan pengelolaan kolaboratif untuk staff taman nasional dengan tema restorasi berbasis masyarakat pada 12-14 Februari, di Resort Ulu Belu, Desa/Pekon Sukamaju, Kecamatan Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung. Pelatihan yang berupaya meningkatkan kapasitas tata kelola sosial dan soft skill ini dilaksanakan oleh Yayasan Pusat Informasi Lingkungan Indonesia (PILI-Green Network) didukung oleh Proyek Sumatran Tiger GEF-UNDP.

Pelatihan diikuti oleh 10 (sepuluh) orang staff Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang terdiri dari Polhut, PEH dan Penyuluh. Para peserta mendapatkan materi tentang pengertian restorasi, kebijakan terkait restorasi di kawasan konservasi, pendekatan restorasi dan tahapannya, dampak dan pengawasannya.

Mirip Harimau Jawa Berhasil Dipotret Warga Pinggiran Hutan

KOMPAS.com - Seekor binatang buas yang diduga mirip Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) berhasil didokumentasikan seorang warga di salah satu hutan pulau Jawa. Foto digital Harimau Jawa yang sedang berjalan di sekitar genangan air itu berhasil diabadikan dengan kamera telepon genggam (handphone). Pemotretan tidak sengaja itu berlangsung pada September 2018 lalu. Namun, pemotret Harimau Jawa tersebut tidak mau namanya dipublikasikan. Foto mirip raja hutan pulau Jawa yang dinyatakan telah punah baru menyebar pada April 2020 ini melalui akun media sosial seorang peneliti Harimau Jawa dari Peduli Karnivor Jawa (PKJ), Didik Raharyono. Baca juga: Kasus Pertama di Dunia, Harimau Terinfeksi Virus Corona "Foto ini (Harimau) dapat kiriman dari warga pada 3 Desember 2018 lalu. Informasinya foto diambil di pinggiran hutan jati sekitaran September 2018," ungkap Didik saat dikonfirmasi Kompas.com melalui percakapan Whatsapp, Senin (6/5/2020) malam. Didik menuturkan awalnya warga memberikan informasi mengenai ada warga melihat harimau loreng di kampung halamannya yang berlokasi di pinggiran hutan. Berikutnya warga juga mengirimkan foto hasil jepretan handphone melalui jejaring Whatsapp.
Melihat Elang Jawa "Sang Garuda" lebih dekat di Pusat konservasi Elang Kamoja

Elang Jawa atau yang bahasa ilmiahnya Nisaetus bartelsi merupakan salah satu spesies elang yang endemik di Indonesia. khususnya di Pulau Jawa. Keberadaannya yang langka, dan terus menjadi sasaran perburuan membuat burung pemangsa ini dilindungi negara. Elang jawa dinobatkan sebagai impresi nyata dari Garuda Pancasila.

Harmoni Alam Situgunung

Sukabumi, 11 Maret 2020. Situ Gunung salah satu pintu masuk wisata Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) yang secara kewilayahan merupakan wilayah kerja Resort PTN Situgunung, Seksi PTN Wilayah IV Situgunung, Bidang PTN Wilayah II Sukabumi.

Cerita ini kita awali dari sebelah barat Resort Situgunung. Potensi alam yang dimiliki luar biasa indah, berupa hutan hujan tropis yang mengelilingi danau Situgunung. Air terjun Cimanaracun turut menambah indahnya suasana yang bersinergis dengan keanekaragaman hayatinya khas hujan tropis. Keindahan fenomena alam ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk berkunjung ke destinasi wisata yang satu ini. Beragam kegiatan dapat dilakukan antara lain, foto pra wedding, shooting, outing, camping, penelitian, pendidikan, ataupun sekedar menikmati suasana danau yang dapat menyejukan mata.

Tandem Nursing Calon Penguasa Tahta Langit Gunung Salak

Sukabumi, 5 Juni 2020. Kabar gembira kembali hadir dari keluarga pasangan Elang Jawa (Nisaetus bartelsi)  Penguasa Tahta Langit Gunung Salak Bagian Utara yaitu Ki Jalu dan Nyi Beti di kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), yang mana pada awal bulan Mei 2020 lalu  berhasil melahirkan si “Wira “. Baru-baru ini, tepatnya di pertengahan bulan Mei, kakak si Wira yaitu “Rakata” yang lahir pada tahun 2016 kembali ke sarang bersama keluarga besarnya untuk mendapatkan pemeliharaan/pelajaran bersama dengan sang adik dari induk betina dalam satu sarang yang sama atau dikenal istilah Tandem Nursing.

Pulau Kaledupa Wakatobi Jaga Mangrove Alami dengan Kearifan Lokal

KOMPAS.com - Di saat banyak komunitas gencar melakukan konservasi mangrove, ternyata Pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara telah memiliki bentang alam mangrove alami yang terus dijaga dengan kearifan lokal masyarakatnya. Wakatobi merupakan kawasan Taman Nasional sekaligus kawasan pemerintahan yang memiliki penduduk yang cukup padat. Pulau Kaledupa adalah salah satu pulau yang ada di taman nasional itu, selain Pulau Wangi-wangi, Pulau Tomia dan Pulau Binongko. Pulau Kaledupa terdiri dari dua kecamatan di dalamnya, yaitu kecamatan Kaledupa (45,50 km persegi) dan Kaledupa Selatan (58,50 km persegi). Kedua kecamatan ini menjadi wilayah yang paling kecil diantara kecamatan lainnya.
Konservasi Gunung Ungaran, 1001 Pendaki Tanam Pohon

UNGARAN, KOMPAS.com - Upaya konservasi Gunung Ungaran dilakukan dengan acara 1001 Pendaki Tanam Pohon. Tahun ini, relawan dari berbagai daerah fokus menanam di area sekitar jalur pendakian Pos I Gunung Ungaran via Pos Pendakian Mawar. Ketua Panitia 1001 PTP Gunung Ungaran #6 Sektor Mawar, Feri Aulia Abdul Rochim, mengatakan bibit yang ditanam meliputi matoa, tanjung, sirsak, petai, jambu biji, dan jati putih. "Total ada 2.400 bibit tanaman, ditambah dengan bibit yang sudah disemai," jelasnya, Minggu (9/2/2020) di Base Camp Mawar, Desa Sidomukti, Bandungan, Kabupaten Semarang. 

Subcategories

Page 8 of 8

© 2022 Pusat Informasi Lingkungan Indonesia. All Rights Reserved. PILI - Green Network