Ular Sanca Hijau/Green Tree Phyton (Morelia viridis). Foto: Aldio Dwi Putra

Ular Sanca Hijau

Ular sanca hijau atau dikenal dengan nama ilmiah Morelia viridis adalah spesies reptil yang menghuni hutan-hutan di beberapa negara termasuk Papua dan Maluku di Indonesia. Warnanya yang cantik membuat ular sanca hijau menjadi incaran kolektor satwa untuk dijadikan peliharaan.

Morfologi

Sesuai namanya, ular sanca hijau pohon dapat dikenali dengan warna tubuhnya yang hijau cemerlang. Punggungnya dihiasi tonjolan sisik yang berwarna putih atau kuning dan membentuk garis putus-putus atau kontinu di sepanjang tubuh, serta semburat biru. Sisik bagian ventral umumnya berwarna kuning, kuning pucat, atau putih.

Ular sanca hijau yang masih muda berwarna kuning cerah. Sepanjang permukaan punggung, terdapat sisik berwarna lebih gelap seperti coklat hingga kehitaman dengan bercak putih.

Jenis ular pohon yang juga dikenal dengan nama ilmiah Chondrophyton viridis ini dapat mencapai panjang rata-rata 1,5 – 2 meter.

Habitat dan Sebaran Geografis

Ular sanca hijau hidup di hutan hujan tropis terutama pegunungan rendah dan hutan hujan dataran rendah pada ketinggian 0 – 2000 meter. Mereka juga dapat ditemukan di hutan sekunder. Saat muda, ular sanca hijau tinggal pada celah kanopi atau tepi hutan di mana cahaya dapat mencapai tanah. Saat dewasa, mereka umumnya ditemukan di hutan hujan berkanopi tertutup.

Ular ini dapat ditemukan di Australia, Indonesia, dan Papua Nugini. Di Indonesia, ular sanca hijau dapat dijumpai di Pulau Papua dan Maluku.

Status Konservasi

Ular sanca hijau populer dalam perdagangan hewan untuk peliharaan karena warnanya yang menarik. Selain itu, ular ini juga kerap diburu untuk dimakan.

Meski ular sanca hijau tergolong dalam kategori risiko rendah (Least Concern [LC]) sebab distribusinya cukup luas dan tren populasinya termasuk stabil, ular ini ilegal untuk diburu dan diperdagangkan secara liar karena termasuk dalam daftar Appendix II CITES. Artinya, perdagangan spesies ini hanya diperbolehkan jika menyertakan dokumen yang memenuhi syarat perizinan. Aturan ini dilakukan untuk mencegah potensi ular sanca hijau menjadi spesies yang mengancam keseimbangan populasi spesies lokal.

Di Indonesia, reptil ini dilindungi melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018.

 

Ular sanca hijau/Green tree phyton (Morelia viridis). Foto: Aldio Dwi Putra

Perilaku

Ular sanca hijau adalah spesies ular piton yang arboreal, meskipun terkadang dapat dijumpai di tanah. Ular dewasa aktif dan sering berburu di malam hari untuk mendapatkan mangsa berukuran besar. Sementara individu remaja bersifat diurnal.

Ular sanca hijau menunjukkan dua postur yang berbeda ketika sedang beristirahat atau berburu. Dalam posisi istirahat, tubuh ular melingkar dan tergantung di dahan yang horizontal. Saat beristirahat, mereka sering berteduh di lubang pohon atau vegetasi epifit. Dalam postur berburu, ujung anterior memanjang dan tubuh dilipat seperti akordeon, sedangkan ujung posterior membelit dahan atau tempat bertenggernya.

Komunikasi

Ular sanca hijau adalah spesies soliter, sehingga sebagian besar komunikasi bersifat interspesifik. Mereka menggunakan lubang labial serta penglihatan saat mencari mangsa. Lubang labial memungkinkan untuk pencitraan inframerah, yang sangat penting mengingat aktivitas nokturnalnya ketika dewasa. Lubang labial juga dapat membantu mereka menemukan tempat penyergapan dan termoregulasi yang sesuai serta membantu mereka menghindari kemungkinan pemangsa. Saat menemukan pasangan potensial, ular sanca pohon hijau kemungkinan besar menggunakan feromon kimia sebagai lawan dari isyarat visual.

Diet

Seperti ular lainnya, ular sanca hijau adalah karnivora. Mereka memangsa reptil kecil, invertebrata, mamalia, dan burung. Jenis makanan ular sanca hijau anakan hingga dewasa muda berbeda dengan individu dewasa.

Saat baru menetas, mangsa utama mereka Carlia longipes dan invertebrata diurnal. Ular sanca hijau yang muda kebanyakan memakan hewan kecil, seperti kadal. Barulah saat dewasa, diet utama mereka adalah mamalia dan burung. Karena mereka adalah predator penyergap, ular sanca hijau tidak sering bergerak dan dapat menggunakan lokasi penyergapan yang sama. Mereka bisa menunggu di tempat yang sama hingga 14 hari untuk menyergap mangsa yang berada dalam jangkauannya.

Peran dalam Ekosistem

Sebagai predator, ular sanca hijau mengendalikan populasi mangsanya seperti spesies pengerat, burung, dan kadal. Mereka juga berperan sebagai makanan untuk beberapa predator lainnya seperti burung elang.

 

Referensi:

www.iucnredlist.org

www.animaldiversity.org

© 2022 Pusat Informasi Lingkungan Indonesia. All Rights Reserved. PILI - Green Network