Burung kuntul kecil (Egretta garzetta) sebagai salah satu penghuni lahan basah. Foto: Aldio Dwi Putra

Lahan Basah dan Burung Air

Lahan basah memiliki fungsi penting bagi kehidupan makhluk hidup. Lahan basah atau wetlands, berperan sebagai penekan risiko bencana, sumber air, penyimpan karbon, dan berpotensi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lahan basah juga berperan untuk menjaga keanekaragaman hayati, salah satunya burung air.

Lahan basah dan burung air merupakan hal yang tak terpisahkan. Lahan basah menyediakan tempat bagi burung-burung air untuk tinggal, mencari makan, dan berkembang biak. Sehingga, keberadaan burung air di suatu ekosistem lahan basah dapat menjadi indikator kualitas lahan basah.

Seperti namanya, burung air merupakan jenis burung yang seluruh hidupnya berkaitan dengan perairan, termasuk lahan basah.

Sebagai salah satu negara pemilik lahan basah basah terluas di dunia, Indonesia merupakan wilayah penting bagi burung air, baik penetap maupun pengembara (migran).

Berdasarkan data Wetlands, terdapat 197 jenis burung air di Indonesia. Dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018, jumlah burung air yang dilindungi ada sebanyak 108 jenis.

Bagi burung cangak (Ardea sp.) dan pecuk (Phalacrocoracidae sp.), kawasan mangrove sangat berguna bagi mereka untuk menghindari predator. Sehingga mereka memanfaatkannya sebagai tempat bersarang. Kawasan mangrove juga menyediakan makanan bagi kelompok burung pemakan ikan seperti kuntul (Egretta sp.). Sedangkan bagi burung pengembara seperti cerek (Charadriidae) ataupun trinil dan kedidi yang termasuk dalam family Scolopacidae, akar-akar mangrove sangat bermanfaat bagi mereka sebagai tempat beristirahat saat air pasang selama musim migrasinya.
Cangak merah (Ardea purpurea). Foto: Aldio Dwi Putra

Salah satu contoh kawasan mangrove ada di Suaka Margasatwa Pulau Rambut, Kepulauan Seribu, Jakarta. Wilayah ini juga diketahui sebagai satu-satunya tempat berkembang biak bangau bluwok/wilwo (Mycteria cinerea), family Ciconidae yang telah berstatus genting (endangered) oleh IUCN dan terancam punah secara global.

Sementara tipe habitat rawa gambut dan hutan air tawar menjadi tempat tinggal dan tempat mencari makan bagi beberapa spesies seperti mentok rimba (Cairina scutulata) dan bangau storm (Ciconia stormi).

Setidaknya, ada sebanyak 49 Daerah Penting bagi Burung di Indonesia yang berpotensi sebagai lokasi persinggahan burung bermigrasi telah diidentifikasi karena mampu mendukung lebih dari 20.000 burung air atau 10.000 pasang burung laut.

Tak hanya lahan basah alami, lahan basah buatan juga merupakan ekosistem penting bagi burung air. Kolam, danau, sawah, hingga empang, merupakan kawasan yang menyediakan rumah dan makanan bagi burung air. 

Meski Indonesia digolongkan sebagai surganya burung air, kehidupan mereka tak lepas dari ancaman. Salah satu penyebabnya adalah karena semakin berkurangnya lahan basah di Indonesia akibat pengalihfungsian. Beragamnya jenis burung air yang memanfaatkan lahan basah dapat menjadi dorongan untuk melestarikan kawasan tersebut.

 

Sumber:

Asep Ayat. 2018. Bukan Hanya Manusia yang Butuh Lahan Basah, Burung Juga. www.mongabay.co.id.

Burung Indonesia. 2012. Indonesia Penting Bagi Burung Air. www.burung.org.

Burung Indonesia. 2018. Sensus Burung Air di Kerajaan Burung Jakarta. www.burung.org.

 

© 2021 Pusat Informasi Lingkungan Indonesia. All Rights Reserved. PILI - Green Network