Kolaborasi PILI dan TAF untuk Hutan Lampung
Pernahkah terpikir bahwa pohon jengkol dan petai bisa membantu mencegah banjir sekaligus menambah penghasilan warga? Di Lampung, hal itu benar-benar terjadi. Lewat Program SETAPAK, upaya menjaga hutan kini berjalan beriringan dengan kesejahteraan masyarakat.
Sejak 2012, The Asia Foundation menjalankan SETAPAK (Selamatkan Hutan dan Lahan melalui Perbaikan Tata Kelola). Tujuannya sangat penting sepert memperbaiki cara kita mengelola hutan agar alam terlindungi dan masyarakat di sekitarnya ikut merasakan manfaat.
Program ini berjalan di beberapa daerah Indonesia, Aceh, Riau, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Lampung. Di sini, PILI Green Network hadir menjadi mitra pendamping di lapangan, khususnya di DAS Semaka Lampung wilayah yang kerap terdampak banjir dan longsor karena kondisi lahan yang kritis.

Kenapa Jengkol dan Petai?
Alih-alih hanya menanam pohon kayu, program ini memakai restorasi atau pemulihan berbasis masyarakat. Pilihan utamanya adalah jengkol dan petai karena akar keduanya kuat mengikat tanah, cocok ditanam di tepi sungai dan lereng. Selain itu, jengkol dan petai punya nilai jual. Warga bisa panen tanpa merusak hutan.
Upaya pemulihan hutan di Hulu Semaka dilakukan secara bertahap di lahan seluas 354 hektar. Hingga saat ini, total 43.971 bibit telah dan akan ditanam. Pada tahap pertama, yang berlangsung pada November–Desember 2025, masyarakat menanam 13.971 bibit petai. Selanjutnya, pada Januari 2026, penanaman akan dilanjutkan dengan 30.000 bibit jengkol. Penanaman bertahap ini dilakukan agar pohon dapat tumbuh lebih optimal sekaligus memberi manfaat lingkungan dan ekonomi bagi warga sekitar hutan. Selain itu, program juga memperkuat kelembagaan kelompok dan melibatkan kelompok perempuan dari pembibitan hingga perawatan.
Keberhasilan ini lahir dari gotong royong. PILI bekerja bersama Dinas Kehutanan Provinsi Lampung dan KPHL Kota Agung Utara untuk pendampingan teknis. Di tingkat warga, Gapoktanhut Lestari Sejahtera menjadi penggerak utama. Dukungan Pemerintah Kabupaten Tanggamus memastikan hasil panen punya akses pasar melalui pengembangan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS).
Tentunya menjaga hutan bukan berarti melarang warga. Dengan tata kelola yang tepat, hutan bisa melindungi dari bencana sekaligus menjadi “bank alam” yang menghidupi masyarakat. Dari Hulu Semaka, pesannya bergema hutan dijaga, warga berdaya.
