Kalau dengar kata batik, biasanya yang terbayang adalah kain dengan motif khas dan warna yang beragam. Tapi, pernah kepikiran nggak kalau beberapa motif batik ternyata terinspirasi dari alam di sekitar kita?
Bukan cuma bunga dan daun, satwa seperti cenderawasih dan pesut Mahakam juga pernah menjadi inspirasi dalam membuat motif batik. Jadi, di balik kain yang kita pakai, ternyata bisa ada cerita tentang alam dan kekayaan hayati Indonesia.

Cenderawasih, burung cantik dari Papua
Salah satu yang sering menjadi inspirasi adalah cenderawasih. Burung yang dikenal dengan bulu indahnya ini memang lekat dengan Papua.
Salah satu jenisnya adalah cenderawasih besar (Paradisaea apoda), yang dapat ditemukan di wilayah barat daya Papua dan Kepulauan Aru. Dalam panduan Ditjen KSDAE, jenis ini tercatat berstatus Least Concern (LC) menurut IUCN.

Nggak hanya bisa ditemukan di alam, bentuk cenderawasih juga hadir dalam karya batik. Penelitian tentang karya batik Yomida Hamadi di Papua menunjukkan bahwa cenderawasih digunakan sebagai motif utama, lalu dipadukan dengan motif pinang dan sirih.
Jadi, ketika cenderawasih digambarkan di atas kain, yang muncul bukan cuma gambar burung. Ada sedikit cerita tentang Papua dan kekayaan alamnya.

Pesut Mahakam, dari sungai jadi motif batik
Kalau tadi dari Papua, sekarang kita ke Kalimantan Timur.
Di Sungai Mahakam, ada satwa yang cukup dikenal masyarakat setempat, yaitu pesut Mahakam. Mamalia air ini bahkan menjadi salah satu ikon Samarinda.

Pesut Mahakam kemudian diangkat menjadi salah satu motif dalam batik Samarinda. Dalam motifnya, pesut bisa dipadukan dengan gambaran Sungai Mahakam, kapal tambangan, burung enggang, hingga tumbuhan khas Kalimantan Timur.
Menarik, ya? Satwa yang hidup di sungai bisa berubah menjadi motif yang kemudian dikenakan di berbagai kesempatan.
Nggak cuma satwa, tumbuhan juga jadi inspirasi. Ternyata, inspirasi batik nggak berhenti di satwa.
Ada juga anggrek hitam, salah satu tumbuhan khas Kalimantan, yang diangkat menjadi inspirasi karya batik. Penelitian dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta mengembangkan anggrek hitam sebagai ide penciptaan batik pada kain tenun Ulap Doyo khas Kalimantan Timur.

Karya tersebut juga punya pesan lain: mengenalkan anggrek hitam sekaligus mendorong kepedulian terhadap tumbuhan dan habitatnya.
Jadi, kainnya bukan cuma punya motif yang cantik. Ada cerita tentang tumbuhan, budaya, dan daerah asalnya.
Dari motif, kita jadi lebih kenal alam. Cenderawasih, pesut Mahakam, dan anggrek hitam adalah beberapa contoh bagaimana alam bisa masuk ke dalam karya budaya.
Lewat batik, bentuk satwa dan tumbuhan yang ada di Indonesia bisa dikenalkan dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kita mungkin awalnya cuma melihatnya sebagai motif yang menarik, tapi ternyata ada cerita tentang alam di baliknya.
Jadi, saat memakai batik di Hari Batik Nasional, 2 Oktober, coba lihat lagi motif yang kita pakai. Siapa tahu, ada cerita tentang alam Indonesia di baliknya. Karena mengenal motifnya juga bisa jadi langkah kecil untuk lebih mengenal dan menghargai alam yang menginspirasinya.
Referensi
- Dwijayanti, N. & Indrayana, B. (2022). Yomida Hamadi’s Cenderawasih Batik Creations in Papua: Study of Motive Forms, Patterns and Structures. Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni, 17(1). DOI 10.33153/dewaruci.v17i1.3628.
- Direktorat Jenderal KSDAE. Panduan Identifikasi Satwa Dilindungi – Aves. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
- Direktorat Jenderal KSDAE. Panduan Identifikasi Satwa Dilindungi – Mamalia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
- Pemerintah Kota Samarinda. Anggun dengan Batik Samarinda Motif Pesut.
- Tyas, F. Y. Analisis Semiotika Motif Batik Khas Samarinda. eJournal Ilmu Komunikasi, Universitas Mulawarman.
- Sari, I. I. (2019). Bunga Anggrek Hitam sebagai Ide Penciptaan Karya Batik pada Kain Tenun Ulap Doyo. INVENSi, 4(2). DOI 10.24821/invensi.v4i2.3220

