Ahli Siapkan Desain Restorasi Mangrove untuk Riau, Ini Tujuannya

KOMPAS.com - Provinsi Riau akan segera memiliki desain restorasi ekosistem mangrove bagi kawasan pesisir. Desain restorasi ini adalah hasil dari kajian ekosistem mangrove yang telah selesai dilakukan oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dengan dukungan PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI).

Hasil kajian tersebut telah disampaikan dalam Lokakarya Daring Hasil Kajian Ekosistem untuk Restorasi Ekosistem, dan Penguatan Aliansi untuk Restorari Ekosistem Mangrove (MERA), Kamis (23/7/2020). Direktur Eksekutif YKAN Herlina Hartanto menyampaikan, kajian ekosistem mangrove yang dilakukan sebagai dasar untuk menetapkan strategi dan metode restorasi ke depan.

"Dalam upaya pemulihan ekosistem mangrove, maka di perlukan desain restorasi yang tepat. Desain restorasi perlu didasari oleh data, informasi dan pertimbangan keilmuan yang kuat," kata Herlina. Herlina juga menyebutkan, beberapa studi dan kajian yang menjadi dasar dalam menentukan strategi dan metode restorasi telah dilakukan, di antaranya sebagai berikut:

  • Lokakarya perencanaan aksi konservasi
  • Pemetaan partisipatif
  • Pemetaan pemangku kepentingan
  • Pemantauan ekosistem mangrove
  • Studi hidrooseanografi

Desain restorasi ini juga perlu dikaji dan dirumuskan dengan berbagai pihak terkait agar tercapai tujuan secara menyeluruh.

Kenapa Provinsi Riau yang dipilih?

Untuk diketahui, wilayah pesisir dan laut Provinsi Riau memiliki potensi perikanan dan kelautan, serta potensi hutan mangrove yang cukup tinggi. Berdasarkan data BPS tahun 2017, hutan mangrove di Provinsi Riau terbilang cukup tinggi yaitu luasnya sekitar 175.000 hektar.

Herlina berkata, dengan potensi ini, Provinsi Riau diharapkan menjadi pusat riset dan pengembangan ekosistem mangrove di Pulau Sumatera. Namun, daya dukung lingkungan yang tidak memadai menyebabkan penurunan fungsi hutan bakau tersebut.

Pada bulan Juli 2020, Gubernur Riau telah membentuk tim Koordinasi Strategi Pengelolaan Ekosistem Mangrove Daerah Provinsi Riau. Langkat tersebut dapat mendukung percepatan pengelolaan pesisir terpadu Riau melalui kerangka program MERA.

MERA merupakan sebuah platform multi-pihak nasional untuk merestorasi ekosistem magrove di Indonesia. Untuk di Provinsi Riau, lokasi kerja program MERA ini adalah Kota Dumai dan Kabupaten Bengkalis.

Program MERA diharapkan menjadi solusi

Seperti diketahui, saat ini berbagai fenomena alam termasuk bencana yang terjadi sudah menandakan adanya dampak dari perubahan iklim. Oleh sebab itu, solusi berbasis ekosistem dalam konteks perubahan iklim ini diharapkan dapat memberikan manfaat triple-win, sebagai berikut.

  • Mengurangi risiko bencana yang efektif dari segi biaya
  • Mendukung konservasi keanekaragaman hayati
  • Meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan manusia

Sehingga, program MERA diharapkan dapat menjadi jawaban untuk sebuah pengelolaan pesisir terpadu dan kolaboratif yang menyatukan seluruh pihak yang peduli akan kelestarian mangrove.

Seperti yang diungkapkan oleh Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI, Safri Burhanuddin bahwa dalam pengelolaan ekosistem mangrove, selain merehabilitasi secara fisik, juga diperlukan pengembangan kemitraan. "Pemerintah Indonesia mendorong terbentuknya forum kemitraan dalam rangka konservasi mangrove seperti halnya MERA," ujar Safri dalam sambutan tertulis yang dibawakan oleh Kepala Bidang Pengelolaan Konservasi Perairan dan Pendayagunaan Pulau-pulau Kecil, Deputi Bidang Sumber Daya Maritim, Kemenko Marves Andreas A Hutahaean.

Dalam kesempatan itu pula, Andreas menyampaikan harapan Safri, di setiap daerah termasuk Provinsi Riau ada tim koordinasi pengelolaan mangrove dan Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD), sebab akan selaras dengan pengelolaan ekosistem mangrove yang berorientasi pada program terpadu dan berkelanjutan.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLHK) Riau, Mamun Murod menyampaikan bahwa Gubernur Provinsi Riau Syamsuar sangat mengapresiasi program MERA untuk mempertahankan ekosistem bakau di wilayahnya. "Bagi Provinsi Riau, kebutuhan akan adanya strategi pengelolaan ekosistem pesisir secara terpadu dan berkelanjutan, khususnya ekosistem mangrove, sudah sangat mendesak. Karena itu, kami menyambut baik diselenggarakannya lokakarya ini untuk membangun sinergitas perencanaan pengelolaan pesisir terpadu di Riau," ujar Mamun.

 

Pewarta: Ellyvon Pranita

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Ahli Siapkan Desain Restorasi Mangrove untuk Riau, Ini Tujuannya", https://www.kompas.com/sains/read/2020/07/24/090200023/ahli-siapkan-desain-restorasi-mangrove-untuk-riau-ini-tujuannya?page=all#page2.
Editor : Gloria Setyvani Putri

© 2020 Pusat Informasi Lingkungan Indonesia. All Rights Reserved. PILI - Green Network