Pulau Kaledupa Wakatobi Jaga Mangrove Alami dengan Kearifan Lokal

KOMPAS.com - Di saat banyak komunitas gencar melakukan konservasi mangrove, ternyata Pulau Kaledupa, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara telah memiliki bentang alam mangrove alami yang terus dijaga dengan kearifan lokal masyarakatnya. Wakatobi merupakan kawasan Taman Nasional sekaligus kawasan pemerintahan yang memiliki penduduk yang cukup padat. Pulau Kaledupa adalah salah satu pulau yang ada di taman nasional itu, selain Pulau Wangi-wangi, Pulau Tomia dan Pulau Binongko. Pulau Kaledupa terdiri dari dua kecamatan di dalamnya, yaitu kecamatan Kaledupa (45,50 km persegi) dan Kaledupa Selatan (58,50 km persegi). Kedua kecamatan ini menjadi wilayah yang paling kecil diantara kecamatan lainnya.
Meskipun menjadi kawasan yang paling kecil wilayahnya, akan tetapi kekayaan mangrove alami di pulau ini menjadi harta alam nusantara yang masih terjaga hingga saat ini. Berdasarkan penuturan Ketua Forum Kaledupa Toudani, La Beloro, mengatakan bentang alam mangrove telah terjaga jauh sebelum Wakatobi ditetapkan sebagai kawasan Taman Nasional, bahkan sebelum Wakatobi resmi masuk dalam daftar wilayah negara Indonesia. Pulau Kaledupa dikelilingi mangrove yang besar dan puluhan meter tingginya. Lantas, bagaimana masyarakat menjaga mangrove? Masyarakat setempat percaya bahwa mangrove adalah pelindung dari tempat yang mereka tinggali, terutama pelindung dari badai atau hanya sekadar angin topan lautan yang bergejolak dan biota seperti kepiting dan kerang.
" Mangrove dari dulu tidak bisa diganggu. Secara sadar masyarakat di sini karena tidak bisa diambil (mangrove), jadi terjaga. Tanaman yang menurut orang tua adalah tanaman penolong," kata Nusi sapaan akrab Mursianti, Anggota Forkani, Sabtu (29/2/2020). Sebagai pelindung kawasan dari angin topan, Nusi mengatakan dulu Kaledupa sering dilanda angin topan, dan mangrove adalah pelindung dari angin topan itu. Orang setempat menyebutnya Jaga nu Fande. Ternyata saat ini, dengan kemajuan teknologi telah membuktikan adanya fungsi dan manfaat bakau atau mangrove yang sangat baik bagi pesisir dan itu sangat diperlukan. Masyarakat di Kaledupa itu sendiri tidak pernah menebang atau hanya sekadar merusak mangrove di sana, meskipun hanya untuk mengambil pohonnya dijadikan kayu bakar.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Pulau Kaledupa Wakatobi Jaga Mangrove Alami dengan Kearifan Lokal", https://www.kompas.com/sains/read/2020/03/12/173200923/pulau-kaledupa-wakatobi-jaga-mangrove-alami-dengan-kearifan-lokal.
Penulis : Ellyvon Pranita
Editor : Holy Kartika Nurwigati Sumartiningtyas
© 2020 Pusat Informasi Lingkungan Indonesia. All Rights Reserved. PILI - Green Network