Global Tiger Day 2021: Menjaga Raja Rimba di Hutan Nusantara

Berpenampilan garang dengan cakar tajam dan taring besar. Siapa sangka saudara kucing rumahan yang beda ukuran ini hidupnya penuh ancaman.

Indonesia punya tiga subspesies kucing besar. Harimau bali (Panthera tigris balica), harimau jawa (Panthera tigris sondaica), dan harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae), yang masing-masing mendiami pulau sesuai nama belakang mereka.

Tapi itu dulu. Dua subjenis yang disebutkan di awal dinyatakan sudah punah, gagal dijaga.

Kalau melihat masa lalu, banyak harimau mati karena peluru. Pada masa kolonialisme, satwa ini dianggap sebagai hama bagi perkebunan sawit. Alhasil perburuan besar-besaran dilakukan. Sebenarnya, perburuan terhadap harimau akhirnya dihentikan. Sayang, sudah terlambat.

Kini hanya harimau sumatra yang tersisa di hutan Nusantara. Menurut penelitian, jumlah harimau sumatra hanya tinggal 600 ekor. Belum lagi degradasi habitat yang mengurangi populasi mangsa dan penyakit yang membuat para pelestari harap-harap cemas dalam mempertahankan harimau.

Parahnya, meski sudah ada hukum yang mengatur perlindungan satwa langka ini, perburuan dan perdagangan ilegal tak hentinya menyumbang permasalahan yang ada. Keinginan untuk memiliki bagian-bagian tubuh Si Mbah masih tinggi. Prestis, keyakinan, dan kekayaan menutup mata para pelakunya.

“Selama permintaan masih ada, perang (dengan perburan dan perdagangan harimau) tidak akan berakhir,” kata Dwi Nugroho, yang sudah lama bergerak untuk memerangi perdagangan satwa liar.

Kemudian muncul pertanyaan. Mengapa kita harus menjaga Si Raja Rimba?

Sudah sering kita dengar mengenai peran Si Loreng ini bagi alam. Predator puncak pengendali populasi mangsa. Penjaga keseimbangan alam. Tanda lingkungan yang sehat.

Semuanya benar. Tapi ada satu lagi nilai yang tidak boleh dilupakan. Harimau sebagai satwa kebanggaan Indonesia, khususnya bagi daerah yang menjadi rumah bagi mereka.

Buktinya, harimau punya arti khusus yang bermuara pada rasa hormat di hati masyarakat Indonesia. Hal ini seringkali terwujud dalam kepercayaan dan tradisi.

Sekarang, kita berpacu dengan waktu untuk menjaga kelestarian harimau, selagi masih bisa.

© 2021 Pusat Informasi Lingkungan Indonesia. All Rights Reserved. PILI - Green Network