Kajian dan Pemetaan Partisipatif di SAP Kepulauan Raja Ampat

Perikanan Berkelanjutan untuk SAP Kepulauan Raja Ampat

Wilayah Indonesia Timur terkenal dengan panorama alam yang indah dan kekayaan ragam hayati laut yang tinggi, salah satunya perairan Kepulauan Raja Ampat. Perairan ini ditetapkan menjadi kawasan konservasi bernama Suaka Alam Perairan (SAP) Kepulauan Raja Ampat melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 64/Men/2009.

Kawasan seluas 60.000 ha ini secara administratif masuk ke dalam Distrik Waigeo Barat dan berada di bawah pemerintahan Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Di sebelah Utara perairan ini berbatasan dengan Pulau Waigeo, sebelah Timur dengan perairan Pulau Gam, sebelah Selatan dengan perairan Kepulauan Fam, sementara di sebelah Barat berbatasan dengan perairan Pulau Batangpele dan Pulau Maijafun.

Sebagai pusat Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), tentunya Kepulauan Raja Ampat kaya akan ekosistem terumbu karang dan biota laut lainnya, dan menjadi salah satu dari segitiga karang dunia. Berdasarkan hasil penelitian tercatat 537 jenis karang, 13 diantaranya merupakan jenis endemik. Jumlah ini merupakan 75% dari karang dunia. Perairan ini juga menjadi habitat bagi 899 jenis ikan karang serta 699 jenis moluska.

Terdapat lima kampung di dalam wilayah SAP Kepuauan Raja Ampat, yaitu Manyaifun, Bianci, Mutus, Meosmanggara, dan Waisilip. Mayoritas masyarakat yang tinggal di SAP Kepulauan Raja Ampat adalah Suku Betew yang merupakan keturunan dari Suku Biak.

Sebagian besar penduduk di sini mengandalkan sektor perikanan sebagai sumber penghidupan. Namun penduduk di sini kalah bersaing karena metode yang digunakan masih tradisional. Keterbatasan peralatan dan kemampuan dalam mengolah hasil tangkapan juga menjadi salah satu kendala bagi masyarakat lokal yang harus menjadi perhatian.

Kajian dan Pemetaan Partisipatif di SAP Kepulauan Raja Ampat

Kajian dan Pemetaan Partisipatif di SAP Kepulauan Raja Ampat

Nelayan-nelayan dari luar yang menangkap ikan dengan alat tidak ramah lingkungan juga merugikan masyarakat di sekitar SAP Kepulauan Raja Ampat karena menimbulkan kerusakan ekosistem yang dijadikan sebagai tumpuan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat di sana.

Agar perairan SAP Kepulauan Raja Ampat tetap terjaga dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya sejahtera, perlu dilakukan upaya untuk mewujudkan perikanan berkelanjutan sehingga pemanfaatan sumberdaya alam yang ada dapat dilakukan secara persisten. Untuk mencapai tujuan tersebut, Kementerian PPN/Bappenas dan ICCTF bersama Yayasan PILI melaksanakan program Coral Reef Rehabilitation and Management Program – Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI). Program dari Pemerintah Indonesia ini bertujuan untuk menjaga kelestarian sumber daya laut dan pesisir sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Kegiatan yang dilakukan dalam program ini diantarnya menguatkan lembaga adat di SAP Kepulauan Raja Ampat sehingga masyarakat adat mendapat akses untuk mengelola wilayah mereka, termasuk perairan. Selain itu dilakukan pula pembentukan kelompok untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sehingga mereka bisa menerapkan prinsip bioekonomi sederhana dalam melakukan aktivitas perikanan. Kelompok tersebut juga akan mendapatkan pendampingan untuk melakukan pengawasan perairan dan mengolah serta memasarkan hasil tangkapan.

 

Referensi:

Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan. Data Kawasan Konservasi. (http://kkji.kp3k.kkp.go.id/index.php/basisdata-kawasan-konservasi/details/1/64)

© 2021 Pusat Informasi Lingkungan Indonesia. All Rights Reserved. PILI - Green Network