Cerita Turun-temurun tentang Orangutan, Tradisi yang Bernilai Perlindungan

Berasal dari Bahasa Melayu, orangutan secara harfiah artinya manusia dari hutan. Menurut penelitian, manusia dan orangutan memiliki kemiripan DNA hingga hampir 97%.

Orangutan dapat dikenali dari rambut panjang berwarna kemerahan yang menyelimuti hampir seluruh tubuhnya. Sebagian besar (sekitar 90%) populasi orangutan menghuni hutan-hutan di Kalimantan dan Sumatra, sisanya hidup di Sabah dan Sarawak.

Sebagai primata penghuni hutan, peran orangutan begitu penting bukan hanya untuk hutan tapi juga untuk manusia. Sayangnya, populasi orangutan terus mengalami kemerosotan. Dari tiga spesies orangutan yang ada di Indonesia, orangutan sumatra (Pongo abelii), orangutan borneo (Pongo pygmaeus), dan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis), semuannya berstatus kritis menurut IUCN Redlist.

Deforestasi bukan satu-satunya penyebab orangutan makin terancam. Perburuan orangutan karena dianggap hama perusak lahan perkebunan di hutan juga membuat jumlah orangutan kian menurun. Banyak juga orangutan yang sengaja ditangkap untuk diperjualbelikan sebagai hewan peliharaan. Yang paling parah, ada yang menjadikan orangutan sebagai pekerja di rumah bordil.

Sebenarnya, hubungan manusia dan orangutan tidak melulu bernilai negatif.

Masyarakat di Kalimantan misalnya, mereka memiliki hubungan spesial dengan orangutan yang terbungkus dalam bentuk cerita urun-temurun.

Dalam tradisi sub-etnik Dayak, ada kepercayaan bahwa manusia belajar dari orangutan tentang cara membantu persalinan dan memanfaatkan tanaman obat untuk memulihkan ibu setelah melahirkan. Cerita lain beredar mengenai orangutan sebagai reinkarnasi tokoh masyarakat, dan oleh karena itu tidak boleh mengganggu mereka ketika mengambil buah dari kebun.

Selain itu juga terbentuk kisah yang sarat peringatan moral tentang seorang pria yang menembak orangutan yang sedang berada atas pohon. Menurut cerita, ternyata orangutan yang ditembak itu adalah seekor induk yang tengah memeluk anaknya. Sebelum mati, sang induk mengambil daun besar dan mengeluarkan air susunya agar bayinya tetap bisa minum.

Seperti harus membayar perbuatannya, konon, sang istri dari pria yang menembak orangutan tersebut melahirkan bayi yang yang tubuhnya tertutupi rambut lebat seperti orangutan.

Hal senada juga diyakini warga Desa Hatabosi, Tapanuli Selatan. Menurut kepercayaan setempat, orangutan memiliki kesaktian dan siapapun yang menyakiti mereka akan terkena kutukan. Kepercayaan inilah yang membuat masyarakat tidak mengusik orangutan.

Cerita turun-temurun seperti itu membentuk rasa hormat pada sesama makhluk hidup dan mendorong perlindungan satwa liar, khususnya orangutan.

Orangutan berperan dalam menjaga regenerasi hutan sebagai penyebar biji (seed disperser). Sebagai hewan frugivora (pemakan buah), proporsi terbanyak isi kotorannya adalah biji buah. Bila kotoran yang mengandung biji itu jatuh ke tanah akan tumbuh menjadi pohon baru di wilayah jelajah orangutan. Orangutan juga merupakan umbrella species, artinya jika kita menyelamatkan orangutan berarti turut pula melindungi berbagai macam flora dan fauna lain di habitatnya.

Selamat Hari Orangutan Sedunia!

 

Referensi:

Cusworth, C. C. 2017. Kisah-kisah Penyelamatan Orangutan. Forestnews.cifor.org

Masyrafina, I. 2019. Orangutan yang Ditunggu-tunggu Warga Kawasan Batangtoru. Republika.co.id

Muhaimin. 2018. Kisah Orangutan di Kalimantan Dijadikan Pelacur untuk Manusia. Internationalsindonews.com.

Petrus Kanisius. 2017. Peranan Penting Orangutan dan Hutan Bagi Kehidupan, Ini Alasannya. Kompasiana.com.

© 2020 Pusat Informasi Lingkungan Indonesia. All Rights Reserved. PILI - Green Network