Berkah Kearifan Lokal, Masyarakat Adat Sungai Utik Tangguh Menghadapi Pandemi

Masyarakat Adat Menua Sungai Utik (MAMSU) terbukti tangguh dan memiliki daya lenting dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk saat pandemi Covid-19 melanda.

Hal ini dikarenakan tradisi dan kearifan lokal masyarakat adat yang mensyaratkan adanya keseimbangan antara kehidupan manusia dengan alam.

Herkulanus Sutomo Manna, perwakilan warga Sungai Utik menceritakan, sejak tengah Maret 2020, masyarakat sudah menutup kampung dari berbagai kunjungan dan beraktivitas sepenuhnya di dalam kampung. “Kehidupan di dalam kampung berjalan normal dan tidak ada kekhawatiran karena pangan dihasilkan sendiri dan tersedia cukup. Berapa lamapun kampung ditutup kami akan mampu bertahan karena ladang menyediakan padi, sayur-sayuran, buah-buahan, hutan juga penuh dengan berbagai keperluan dasar,” ujar Tomo.

Tomo menambahkan, cara mitigasi bencana ini diajarkan oleh para tetua sejak dahulu. Warga terbiasa untuk memastikan bahwa dalam kondisi terburuk, kampung akan mampu bertahan dengan menyediakan keperluan sendiri dan ini hanya mungkin dilakukan jika hutan masih terjaga dan persatuan warga masih kuat.

Untungnya, komunitas Sungai Utik saat ini telah menerima pengesahan hutan adat untuk areal seluas 9.480 Ha setelah perjuangan panjang selama puluhan tahun. Pengalaman dari warga Sungai Utik ini disampaikan dalam konferensi pers daring tanggal 9 Agustus 2020 yang diselenggarakan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), bertepatan dengan Hari Masyarakat Adat Internasional.

Sekretaris Jenderal AMAN Rukka Sombolinggi mengatakan, pengalaman selama ini menunjukkan krisis di komunitas dapat diantisipasi dengan secara aktif terus memproduksi pangan, terutama pangan lokal, memelihara semangat gotong royong serta memastikan solidaritas kolektif antar sesama masyarakat adat.

“Tentu saja, perlindungan dan pengakuan negara terhadap pemenuhan hak-hak Masyarakat Adat, khususnya dalam hal ini, hak-hak untuk secara bebas mengelola wilayah adat dan sumber-sumber produksinya, menjadi kunci utama untuk memastikan krisis dapat dilalui dengan selamat,” ujar Rukka.

Oleh karena itu, perayaan Hari Masyarakat Adat Internasional tahun ini mengusung tema Kedaulatan Pangan dan Pengakuan Hak Masyarakat Adat. Puluhan komunitas adat di Indonesia merayakan lewat aksi-aksi kreatif yang disiarkan secara daring saat perayaan Hari Masyarakat Adat Internasional.

Rukka menambahkan, Rancangan Undang-Undang (RUU) Masyarakat Adat saat ini telah resmi disahkan menjadi RUU inisiatif DPR RI setelah 10 tahun menjadi pembahasan.

Tertundanya pengesahan RUU Masyarakat Adat ini menyebabkan perlindungan dan pemenuhan hak Masyarakat Adat di Indonesia menjadi tidak maksimal.

Peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional ini menjadi momen penting untuk kembali mengingatkan masyarakat dan pemerintah bahwa masyarakat adat adalah bukti dan teladan dalam hal cara menyeimbangkan kembali hubungan kita dengan alam dan mengurangi risiko pandemi di masa depan, termasuk kemampuan untuk beradaptasi di tengah perubahan-perubahan atas lingkungan dan teknologi.

“Disahkannya RUU Masyarakat Adat akan menjamin komunitas adat yang tersebar di nusantara untuk membangun resiliensi komunitasnya yang secara langsung menyumbang pada ketahanan Indonesia sebagai bangsa. Disitulah masyarakat adat perlu didukung,” tutup Rukka.

 

Artikel ini telah tayang di Klikhijau.com dengan judul "Berkah Kearifan Lokal, Masyarakat Adat Sungai Utik Tangguh Menghadapi Pandemi"

https://klikhijau.com/read/berkah-kearifan-lokal-masyarakat-adat-sungai-utik-tangguh-menghadapi-pandemi/

© 2020 Pusat Informasi Lingkungan Indonesia. All Rights Reserved. PILI - Green Network