GTD 2020: Harimau dan Budaya, Citra Si Raja Rimba dalam Adat Sumatra

Sejak dulu, manusia dan harimau telah hidup berdampingan. Bagi masyarakat Indonesia harimau melekat dengan budaya dan menjadi bagian dari identitas.

Di Sumatra misalnya, hewan kharismatik ini memiliki sebutan spesial bernuansa hormat: datuk, inyiak, rimueng, ompung, imau, dan ampang limo. Penyebutan yang berbeda-beda tiap daerah ini pada dasarnya memosisikan harimau sebagai "wong tuo" yang harus dihormati.

Di Aceh ada kepercayaan bahwa harimau sebagai penjaga makam-makam keramat atau kuburan orang suci. Sebagian orang percaya harimau penjaga itu adalah roh dari yang telah meninggal, beberapa menganggap harimau penjaga adalah kiriman Tuhan.

Sementara di Kerinci, masyarakat di sana punya ritual 'ngagah' atau oleh istilah lokal disebut 'bayar bangun'. Dahulu, ritual ini dilakukan masyarakat desa Pulau Tengah setiap ada harimau yang mati di hutan karena konflik atau alami. Tujuannya untuk menyantuni roh harimau atau agar harimau lain tidak turun ke kampung.

Konon ada perjanjian antara leluhur Pulau Tengah dengan harimau, khususnya tiga harimau milik negeri Pulau Tengah berjuluk Pemangku Gunung Rayo, Rintik Hujan Panas, dan Hulubalang Tigo. Menurut kepercayaan, jika ada harimau yang melanggar perjanjian seperti masuk ke perkampungan dan memangsa ternak, ketiga harimau tersebutlah yang akan menghukumnya.

Diyakini setelah dilakukan ritual bayar bangun, hubungan manusia dan harimau kembali harmonis.

Di Sumatra Utara, terdapat legenda Batak “Babiat Setelpang” tentang harimau pincang yang menjaga ibu serta seorang anak yang diasingkan ke dalam hutan. Selain itu, masyarakat Batak Mandailing di sana juga percaya bahwa bila ada harimau memasuki pemukiman, itu artinya ada orang di pemukiman tersebut yang melakukan hal yang dilarang.

Lain lagi kisahnya di Minangkabau, di sana harimau dipercaya sebagai roh leluhur mereka dan menjadi inspirasi aliran ilmu bela diri di sana, yakni silek (silat) harimau. Bela diri tersebut menggunakan senjata yang disebut kurambik, sejenis pisau kecil yang merepresentasikan cakar harimau.

Terdapat pula mitos yang mengatakan bahwa pesilat yang menguasai silek harimau dapat berubah wujud menjadi harimau.

Berbagai kepercayaan di Sumatera tersebut secara tidak langsung melahirkan tradisi atau budaya untuk menjaga keberadaan harimau.

WhatsApp Image 2020 07 28 at 21.28.23

Jika hal-hal tersebut merupakan citra harimau secara kultural, tak jauh berbeda gambarannya secara biologi.

Harimau adalah predator puncak dalam piramida makanan, sehingga mereka berperan dalam mengendalikan populasi mangsa di bawahnya. Artinya, keberadaan harimau menandakan kesehatan ekosistem.

Selain menyandang gelar flagship species, yang berarti menjadi ikon konservasi, harimau juga merupakan umbrella species yang artinya jika harimau lestari, flora dan fauna di daerah jelajahnya juga terlindungi.

Saat ini keadaan harimau sumatra semakin tercekik karena penyusutan habitat maupun perburuan. Di saat yang sama, harimau sumatra menjadi satu-satunya harapan dan kesempatan bagi Indonesia untuk terus menjaga warisan alam dan budaya.

"Jangan rusak singgasana kami
Nanti kami binasa
Kebinasaan kami adalah awal kebinasaan kalian"

Selamat Hari Harimau Sedunia!

 

Referensi:

Forum HarimauKita. 2019. AUM! Atlas Harimau Nusantara. Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, GEF UNDP. Jakarta.

WWF Indonesia. 2019. Harimau Sumatera dan Legenda. (www.wwf.id/publikasi/harimau-sumatera-dan-legenda)

Jambi Update. 2018. Tari Ngagah Harimau, Peraih Warisan Budaya Tak Benda Indonesia. (www.jambiupdate.co/artikel-tari-ngagah-harimau-peraih-warisan-budaya-tak-benda-indonesia.html)

© 2020 Pusat Informasi Lingkungan Indonesia. All Rights Reserved. PILI - Green Network