Populasi Terus Turun, Peneliti Desak Pemerintah Bentuk Regulasi Perlindungan Hiu

Peneliti kelautan desak pemerintah untuk membentuk regulasi perlindungan hiu. Hal ini karena jumlah populasi predator tersebut terus mengalami penurunan.

Pada 9 Mei, peneliti Kementerian Kelautan dan Perikanan Dharmadi menyampaikan bahwa hiu memiliki karakteristik biologis yakni pertumbuhan yang lambat, yang membuat mereka rentan terhadap penangkapan ikan.

Misalnya, hiu Thresher berusia 1 tahun hanya tumbuh 10 hingga 11 cm setiap tahun, dan tumbuh sebesar 1 hingga 2 cm per tahun setelah mereka mencapai usia 10 hingga 11 tahun.

Selain laju pertumbuhannya yang lambat, hiu juga bereproduksi secara lambat dan hanya melahirkan beberapa anak hiu.

Hal ini menyebabkan beberapa spesies hiu dimasukkan dalam kelompok yang hampir punah, seperti hiu air tawar.

Karena itu, Dharmadi mengungkapkan pentingnya untuk mengeluarkan peraturan perikanan untuk melindungi hiu dari kepunahan.

Untuk memperbaiki penangkapan ikan hiu dengan berpegang prinsip berkelanjutan, Dharmadi menyatakan bahwa 'finning' harus dilarang, ukuran alat tangkap harus dibatasi dan diatur, harus ada kuota dan manajemen penangkapan, serta perlindungan bagi hiu yang terancam punah.

Alat tangkap harus dipilih dengan benar, dan terbatas hanya untuk alat pancing skala besar, dan jaring, tambahnya

"Dari pengamatan kami, banyak hiu hamil tertangkap di Muara Angke," kata Dharmadi.

Sementara itu, Benaya Simeon dari Wildlife Conservation Society Indonesia menjelaskan bahwa hiu dan ikan pari adalah jenis vertebrata yang melahirkan antara satu hingga 40 keturunan.

Selain itu, hiu hanya memulai proses kawin setelah mereka mencapai usia 30 tahun. Hiu juga memainkan peran penting dalam ekosistem laut dengan menjaga keseimbangan rantai makanan.

Data dari Uni Internasional untuk Konservasi Alam dan Sumber Daya Alam (IUCN) menunjukkan bahwa hiu dan ikan pari berada di bawah ancaman kepunahan. Hanya 31 persen dari masing-masing spesies yang tersisa. Dua ratus lima puluh dari 1.250 spesies ikan vertebrata hidup di Indonesia.

"Lokasi kami telah menjadi habitat hiu dan ikan pari," kata Benaya.

Pada 1940-an, orang Indonesia mulai mengonsumsi hiu. Pada 1980-an, permintaan meningkat untuk hiu di pasar internasional, yaitu ketika penangkapan hiu dimulai di Indonesia.

Selama krisis ekonomi pada tahun 1980, Indonesia menjadi produsen hiu dan ikan pari terbesar di pasar global, yang menyebabkan hiu dan ikan pari terdaftar dalam Konvensi Perdagangan Internasional Spesies yang Terancam Punah pada tahun 2000.

 

Pewarta : Theresia Sufa

Artikel ini telah tayang di thejakartapost.com dengan judul "Shark Protection Regulation Needed as Population Dwindles in Indonesia: Researchers"

https://www.thejakartapost.com/life/2020/05/14/shark-protection-regulation-needed-as-population-dwindles-in-indonesia-researchers.html

© 2020 Pusat Informasi Lingkungan Indonesia. All Rights Reserved. PILI - Green Network