Teluk Tomini Kehilangan Mangrove Akibat Alih Fungsi Lahan

Tahukah Anda, di mana perairan laut semi tertutup terbesar yang dilewati garis khatulistiwa di Indonesia? Jawabannya adalah Teluk Tomini. Tak heran kalau teluk ini merupakan teluk terluas di Indonesia.

Teluk Tomini juga terletak di jantung segi tiga karang dunia (coral triangle). Bahkan di bagian tengahnya, terdapat Kepulauan Togean yang digambarkan sebagai untaian ratna mutu manikam yang terkenal karena kecantikan laut dan terestrialnya. Teluk Tomini juga memiliki keanekaragaman hayati dengan tingkat endemisitas yang tinggi.

Namun dalam beberapa dekade, mutu lingkungan dan sumber daya pesisirnya cenderung menurun. Hutan mangrove dikonversi menjadi tambak, perumahan, pelabuhan, dan perubahan lainnya. Sementara terumbu karangnya terancam dari pengambilan ikan secara destruktif.

“Degradasi biodiversitas terjadi karena ekstraksi sumber daya, alih fungsi lahan, serta ada juga bencana. Dampak perubahan iklim, bencana geologi atau tektonik gempa bumi, serta masalah kesehatan masyarakat juga berpengaruh,” ujar Rahman Dako, pendiri Perkumpulan Japesda Gorontalo, 18 Juli 2020.

Rahman menyampaikan hal tersebut saat seminar online tentang “Potensi dan Tantangan Pengelolaan Biodiversitas Pesisir” yang digelar Pusat Kajian Ekologi Pesisir Berbasis Kearifan Lokal (PKEPKL) Universitas Negeri Gorontalo.

Menurut Rahman, Teluk Tomini merupakan kawasan kaya keanekaragaman hayati namun tantangan pengelolaan ekosistem, terutama hutan mangrove, semakin tinggi dengan meningkatnya alih fungsi kawasan hutan menjadi tambak.

Teluk Tomini berada di wilayah tiga provinsi, yaitu Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah yang mencakup administrasi di 14 kabupaten dan kota. Ekosistem mangrove yang berada di 8 kabupaten ini: Banggai, Poso, Tojo Una-una, Parigi Moutong, Pohuwato, Boalemo, Bolaang Mongondow Timur, serta Bolaang Mongondow Selatan, mengalami degradasi signifikan. Dari luasan 27,672 hektar (1988) menjadi 16,105 hektar (2010). Diperkirakan, saat ini hanya 10,321 hektar (2020).

Penyebabnya adalah alih fungsi kawasan hutan menjadi tambak. Rahman memperkirakan, 93,26 persen degradasi mangrove karena pembukaan tambak yang didominasi di Gorontalo dan Sulawesi Tengah.

Kebijakan pemerintah pusat yang disebut berpotensi “merusak” biodiversitas di Teluk Tomini adalah udang dan kepentingan politik ekosistem mangrove. Sebab, udang penyumbang devisa terbesar dari sektor perikanan setelah tuna. Apalagi, target budidaya udang Indonesia 2020-2024 dinaikkan menjadi 250 persen. Untuk mewujudkan target tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan saat ini memerlukan penambahan lahan tambak sekitar 86.000 hektar.

Pada Juni 2020, Menteri Kelautan dan Perikanan berkunjung ke Gorontalo dengan memberikan bantuan kepada nelayan dan petambak udang di lima kabupaten dan satu kota sebesar 7,9 miliar Rupiah, termasuk di Kabupaten Pohuwato yang memiliki kasus alih fungsi hutan mangrove. Apalagi, di kawasan Cagar Alam Tanjung Panjang yang menjadi bagian penting ekosistem Teluk Tomini, saat ini sedang proses pengusulan kebijakan TORA (Tanah Objek Reforma Agraria). Petambak udang di kawasan itu ikut mendapat bantuan.

“Kebijakan tersebut berimplikasi pada pengelolaan kawasan hutan dan terjadi degradasi biodiversitas serta kerusakan ekosistem mangrove di Teluk Tomini,” ujar Rahman.

Hutan mangrove di pesisir Teluk Tomini yang berada di kawasan Cagar Alam Tanjung Panjang di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo terancam tambak udang dan bandeng. (Christopel Paino/Mongabay Indonesia)

Sebenarnya, banyak alternatif yang bisa dilakukan untuk mengembangkan ekonomi masyarakat, selain memperluas tambak udang dan bandeng di kawasan hutan lindung mangrove. Menurut Rahman, dengan membuat tambak supra intensif skala rakyat yang tidak merusak mangrove serta ramah biodiversitas, tambak tersebut produksinya berkali lipat dari tambak tradisional maupun semi moderen dan relatif murah. “Limbahnya bisa dikurangi atau dikontrol, bisa didanai oleh dana desa, dan bisa menarik perhatian kaum muda.”

Selain itu, jika pengelolaan Teluk Tomini dijalankan dengan baik, dampaknya adalah perlindungan biodiversitas, pengembangan wisata bahari berwawasan lingkungan, ekonomi perikanan berkelanjutan, pencegahan dan pengelolaan pencemaran laut, konservasi kawasan kritis, serta pengembangan pendidikan lingkungan.

Spesimen Mangrove Teluk Tomini

Sebelumnya, Rignolda Djamaluddin, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado, menyebut bahwa garis khatulistiwa membelah Teluk Tomini dan berpengaruh pada keanekaragaman hayati serta lingkungan pesisirnya. Hal itu, membuat para peneliti meyakini bahwa daerah yang dekat khatulistiwa akan terhindar badai-badai besar yang bisa merusak. Kondisi tersebut yang membedakan Indonesia dengan Filipina yang sering dilanda badai besar.

“Setiap lokasi di Teluk Tomini karakternya tergantung posisinya dalam teluk itu sendiri. Contohnya di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, yang merupakan bagian terluar Teluk Tomini. Mangrove di sana, ketika pantai itu sempit maka tumbuh di karang mati, jadi sangat tipis tapi stabil,” ungkap Rignolda yang merupakan pendiri Perkumpulan Kelola Manado.

Di Kabupaten Boalemo, ada bagian pantai dan mangrovenya tipis, tapi semakin ke barat semakin melebar dan batimetri di tempat ini relatif lebih dalam. Di Kabupaten Pohuwato, mangrove lebar karena tekanan gelombang datang dari arah timur yang membuat sedimentasi. Sementara di Kabupaten Parigi Moutong, kondisi pantai yang terganggu karena faktor fisik bagian dalam dekat pantai serta karena konstruksi jalan, membuat mangrove mengalami persoalan besar.

Rignolda meyakini, paling sedikit ada 27 spesies mangrove di Teluk Tomini. Ia menyebut ada satu spesies mangrove ditemukan di Panua, Kabupaten Pohuwato, namanya Osbornia octodonta. Jenis ini bukan berasal dari Indo-Malaysia tapi dari Australasia atau dari arah lebih timur, baik itu Papua atau tempat lain sebelah timur. Juga, ada spesies Aegiceras floridum, yang ditemukan di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, namun spesimennya sangat sedikit.

“Setidaknya, ada 3 spesies yang menceritakan batas distribusi secara geografi yang hanya ada di Teluk Tomini, dan perlu mendapatkan perhatian secara konservasi.”

Menurutnya, ada perubahan dalam hal tutupan lahan yang sangat signifikan di Teluk Tomini, dan untuk mangrove sangat besar. Pada setiap wilayah ada gangguan dengan persentasi rata-rata sudah pada level medium, dan beberapa lokasi gangguannya sangat tinggi. Jika rencana pengelolaan berkelanjutan tidak segera dikembangkan, katanya lagi, degradasi akan terus berlanjut dan menyebar, serta Teluk Tomini semakin kehilangan mangrove dan fungsi ekologinya.

“Ini kerja berat kita ke depan,” kata Rignolda.

Dewi Baderan, peneliti bidang lingkungan dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menuturkan tentang program pemberdayaan perempuan di pesisir Teluk Tomini yang ada di perkampungan suku bajo di Torosiaje, Kabupaten Pohuwato.

Perempuan desa memanfaatkan buah mangrove untuk dijadikan olahan pangan serta produk kerajinan tangan. Sebab, selama ini banyak orang yang menganggap fungsi ekonomi mangrove hanya pada batang pohonnya, sehingga mereka membabat habis dan menjualnya. Lalu, mengubah lahan tersebut menjadi tambak.

“Ketika perempuan berdaya, mereka otomatis menanam mangrove tanpa disuruh karena ada permintaan terkait produk yang mereka hasilkan.”

Hasil olahan buah mangrove dan juga kerajinan tangan yang dilakukan Dewi bersama perempuan pesisir yang diinisiasi Pusat Kajian Ekologi Pesisir Berbasis Kearifan Lokal (PKEPKL) telah dipamerkan di 20 negara, bekerja sama dengan program Mangrove For the Future (MFF).

“Mempertahankan mangrove dapat mengatasi kerusakan dan juga krisis pangan bangsa akibat pandemi COVID-19,” tutup Dewi.

 

Artikel ini telah tayang di mongabay.co.id dengan judul "Teluk Tomini Kehilangan Mangrove Akibat Alih Fungsi Lahan"

https://www.mongabay.co.id/2020/07/27/teluk-tomini-kehilangan-mangrove-akibat-alih-fungsi-lahan/

© 2020 Pusat Informasi Lingkungan Indonesia. All Rights Reserved. PILI - Green Network