Info Terkini
Slide item 1

Workshop Bersama Mitra Dari TNBBS

Workshop Penguatan Pengelolaan Kawasan Konservasi

Slide item 2

Workshop Bersama Mitra Dari TNBBS

Workshop Penguatan Pengelolaan Kawasan Konservasi.

Slide item 3

Pelatihan Pengenalan Jenis Tanaman Restorasi

Pengenalan ini penting, terutama mengenali jenis apa saja dan juga indukan sebagai sumber bibit untuk kegiatan restorasi selanjutnya. PILI bekerjasama dengan KPHP (Kelompok Pelestari Hutan Pesanguan).

Slide item 4

Pelatihan Pengenalan Jenis Tanaman Restorasi

Pengenalan ini penting, terutama mengenali jenis apa saja dan juga indukan sebagai sumber bibit untuk kegiatan restorasi selanjutnya. PILI bekerjasama dengan KPHP (Kelompok Pelestari Hutan Pesanguan)

Slide item 5

Collaborative Managament Plant

Sosialisasi, koordinasi dan lokakarya collaborative management plant Taman Nasional Gunung Lueser. Medan, 19 - 20 april 2018

Slide item 6

Collaborative Managament Plant

Sosialisasi, koordinasi dan lokakarya collaborative management plant Taman Nasional Gunung Lueser. Medan, 19 - 20 april 2018.

Berbicara tentang sumber daya alam di Indonesia pasti banyak hal yang terlintas dibenak kita. Negara gemah ripah loh jinawi atau kekayaan alam yang berlimpah merupakan ungkapan yang paling sering digunakan untuk menggambarkan keadaan sumber daya alam Indonesia. Namun, pernahkah terlintas bagaimana kah pengelolaan sumber daya alam yang gemah ripah loh jinawi?

Dalam pengelolaan sumber daya alam melibatkan banyak pihak yang terkait secara langsung maupun tidak langsung terhadap sumber daya tersebut.  Pihak-pihak tersebut dapat dikelompokkan dalam beberapa golongan yaitu masyarakat, swasta, pemerintah dan NGO/CSO yang setiap golongan memiliki kepentingan tersendiri terhadap sumber daya alam yang ada di Indonesia. Untuk membangun kolaborasi dalam pengelolaan SDA dan mitigasi konfliknya serta memunculkan inovasi-inovasi  untuk pengelolaan yang bertanggung jawab Centre of Social Excellence atau CSE - Indonesia mengadakan belajar bersama spesialis sosial yang tahun ini memasuki angkatan ke-6.

Pada angkatan VI ini peserta belajar bersama spesialis sosial yang disebut warga belajar berjumlah 20 orang. Warga belajar berasal dari berbagai wilayah di Indonesia mulai Aceh sampai Papua dengan latar belakang yang berbeda. Ada perwakilan dari sektor pemerintahan, swasta (perusahaan), masyarakat dan Non-Governmental Organization (NGO). Belajar bersama digelar di TFT (The Forest Trust) Learning Center di Desa Wonoharjo, Kecamatan Rowokele Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah selama 10 hari. Dalam belajar bersama, warga belajar diajak untuk tinggal bersama dengan masyarakat yang menyediakan rumahnya sebagai homestay. Dengan metode ini warga belajar tidak hanya belajar dengan narasumber namun juga belajar dari kearifan lokal masyarakat Desa Wonoharjo. Materi terkait pengelolaan SDA disajikan secara menarik oleh narasumber yang berkompeten di bidangnya. Materi yang disampaikan meliputi materi makro dan materi tematik. Materi makro yaitu : Inklusivitas gender dalam pengelolaan SDA, hak-hak masyarakat adat lokal, kolaborasi dan inovasi dalam pengelolaan SDA. Materi tematik meliputi : Land tenure, FPIC (Free, Practice, Prior, Consent) , mengenal resolusi konflik dengan pendekatan ADR, dan mengenal dampak sosial. Selain materi dalam kelas, warga belajar juga terjun langsung belajar dengan contoh-contoh kasus yang ada di sekitar lokasi belajar yang dikemas dalam belajar kancah dan dilakukan secara berkelompok.

Sesuatu yang menjadi belajar bersama ini menarik adalah ragam latar belakang peserta yang kaya. Berbagai sudut pandang menjadi satu untuk merumuskan bersama bagaimana pengelolaan SDA yang baik dan bertanggung jawab. Pada awalnya sedikit sulit untuk menemukan kata sepakat dalam setiap sesi diskusi, namun pada akhirnya semua menyadari bahwa bersikeras dengan pendirian masing-masing tidak akan menyelesaikan masalah, setiap sektor harus berkolaborasi untuk menemukan jalan terbaik dalam pengelolaan.

Pengelolaan sumber daya alam juga tidak terlepas dari peran setiap sektornya sampai pada sektor terkecil yang kadang diabaikan. Dalam belajar bersama ini warga belajar juga dituntut untuk peka pada kelompok-kelompok marginal seperti kelompok perempuan, disabilitas dan masyarakat adat yang secara langsung berkaitan dengan SDA.

Dalam akhir belajar bersama, warga belajar menyatakan deklarasi Wonoharjo bahwa pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab adalah system atau tata cara kelola sumber daya alam yang belibatkan berbagai sector dengan mempertimbangkan hak-hak masyarakat adat-lokal dan  kelompok rentan.

https://www.youtube.com/watch?v=egC8n6eXdI4&sns=em

 

Penulis: Arista Setyaningrum

Login Form

Pengunjung Kami

227747
Today
Yesterday
This Week
Last Week
This Month
Last Month
All days
128
99
890
225769
2505
4001
227747
Your IP: 54.196.110.222
2018-05-20 17:29